728 x 90




IKA UPI Kutuk Keras Aksi Terorisme

  • Rubrik: Peristiwa
  • 14 Mei 2018 | 10:20 WIB
  • 00247
img
Petugas memadamkan api yang membakar sejumlah sepeda sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.* ist.

BANDUNG, (PJO.com) -- Peristiwa kerusuhan di Markas Komando Brimob Depok dan penyerangan tiga gereja di Surabaya yang mengakibatkan jatuhnya belasan korban jiwa, mengusik rasa kemanusiaan seluruh alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kejadian ini mengingatkan betapa gerakan terorisme masih tumbuh subur di Bumi Pertiwi sekaligus mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bangsa yang berpijak pada kebhinekaan.

Tindakan terorisme atas alasan apa pun merupakan perbuatan keji dan tidak berprikemanusiaan serta tidak pernah diajarkan oleh seluruh agama di muka bumi. Terkait dengan hal itu, dalam pernyataannya yang dikirim ke Redaksi PJO.com, Minggu malam (13/5), Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) menyampaikan pernyataan sikap.

Pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua Umum, Drs. Enggartisto Lukita, dan Sekretaris Jenderal, Prof. Dr. Didin Saripudin, M.Si., tersebut terdiri atas enam poin.

1. Mengecam dan mengutuk keras aksi kerusuhan di Markas Komando Brimob pada 8-9 Mei 2018 dan penyerangan gereja yang terjadi di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018. Penyerangan rumah dan kegiatan ibadah merupakan tindakan terkutuk dan tidak pernah menjadi bagian dari perintah agama apa pun. 

2. Menyampaikan duka mendalam dan berbela sungkawa atas korban yang jatuh dari tindakan keji terorisme. Semoga segenap keluarga korban diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran.

3. Mendesak aparat keamanan untuk segera menangkap dan melakukan tindakan tegas terhadap pelaku tindakan terorisme ini serta tidak memberikan ruang apa pun terhadap tindakan terorisme di Tanah Air. Meminta pemerintah memberikan perlindungan maksimal terhadap rumah ibadah dan kegiatan peribadatan bagi setiap warga negara dari ancaman terorisme.

4. Mendesak pemerintah melakukan evaluasi upaya-upaya deradikalisasi yang selama ini telah dilakukan pihak-pihak berwenang agar kelak tidak terjadi lagi aksi-aksi terorisme di kemudian hari. Salah satu upaya adalah dengan menjadikan nilai-nilai pendidikan yang mengedepankan prinsip silih asah-silih asih-silih asuh sebagai bagian dari upaya deradikaliasi sistematis dan berperikemanusiaan.

5. Meneguhkan komitmen untuk berperan aktif dalam upaya-upaya pencegahan berkembangnya gerakan terosisme di Tanah Air dan senantiasa mengembangkan program-program kealumnian yang di dalamnya turut memupuk nilai-nilai pluralisme dan kebangsaan.

6. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi, dan tidak memberikan toleransi atas tindakan terosisme serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Pada saat yang sama, tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dari pihak mana pun yang mengancam suasana persaudaraan dan persatuan bangsa.* har