728 x 90




Tim Investigasi Tidak Berkenan Paparkan Hasil Temuan Kebocoran Soal

  • Rubrik: Pendidikan
  • 07 April 2018 | 06:39 WIB
  • 00100
img

BANDUNG, (PJO.com) -- Tim Investigasi Kebocoran Ujian Sekolah Berstandard Nasional (USBN) telah selesai menjalankan tugasnya. Namun, Tim investigasi kebocoran soal yang diketuai oleh Husein R. Hasan ini, tidak berkenan memaparkan hasil temuan, dengan alasan  pihak Kepolisian sedang melakukan penyelidikan.

Menurut Husein, Tim Investigasi telah mengunjungi dan melakukan penyelidikan di empat sekolah, yaitu  SMAN 5, SMAN 16, SMAN 3, dan SMAN 20 Bandung.  Namun menurutnya, di empat sekolah tersebut tidak ditemukan adanya kebocoran, walaupun kebocoran bisa saja terjadi.

“Kami selaku Tim Investigasi tidak memiliki kompetensi sampai melakukan penyidikan. Kewenangan kami hanya membuat laporan yang disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat. Itu sudah  ranahnya aparat kepolisian.  Jadi kami tidak bisa mengatakan ada-tidaknya kebocoran atau siapa pelaku yang membocorkan soal USBN tersebut,” kata Husein, di Bandung kemarin.

Husein juga mengatakan, kalau dilihat dari hasil USBN ternyata hasil rata-rata nilai siswa terbilang normal. Walaupun ada beberapa yang mendapatkan nilai sempurna, karena siswa tersebut memang sudah berprestasi sebelumnya.

“Saat ini baru ada satu temuan SMA swasta yang diduga kuat terjadinya kebocoran. Hal itu, kami temukan berdasarkan laporan pengawas sekolah yang menemukan ada murid yang membawa HP saat ujian padahal aturan tidak boleh, dan saat dilihat pengawas. Anak itu sedang mengakses kunci jawaban dari HP-nya,”ujarnya

“ Namun, jika ditemukan siswa nilainya cukup signifikan, tentunya perlu ada pengulangan. Tetapi sampai saat ini Kepala Disdik Jabar  belum mengeluarkan kebijakan untuk dilakukan ujian ulang,” sambungnya.

Husein juga mengatakan, ke depan perlu dikaji ulang SOP (Standard Operational Procedure) pelaksanaan USBN.  Tim menyarankan, penyusunan soal USBN seluruhnya dikelola oleh sekolah dan merekomendasikan pelaksanaan USBN berbasis komputer, memperbaiki mekanisme pendistribusian soal ke sekolah, dan pemperketat penyelenggaraan USBN. Hal ini sebagai langkah antisipasi mencegah kebocoran.

“Diperketat proses penyelenggaraan USBN di sekolah, mulai dari perencanaan, pembuatan soal, pendistribusian soal hingga pelaksanaan ujian. Tidak diperlukan lagi distribusi soal yang melibatkan terlalu banyak pihak,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Ketua FAGI (Forum Aksi Guru Indonesia), Iwan Hermawan, mengatakan berdasarkan  hasil investigasi dan data yang dimiliki oleh FAGI, pihak sangat yakin telah terjadi kebocoran soal dan kunci jawaban USBN 2018 di Jabar.
Bahkan FAGI  mengendus adanya indikasi maladministrasi yang dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar) dalam kasus kebocoran USBN SMA/SMK 2018 di Jabar.

“Maladministrasi yang dimaksud adalah kesalahan dalam menerjemahkan pos USBN, ujarnya kepada wartawan,” katanya.
Iwan juga menyayangkan, hasil investigasi dan data yang disampaikan FAGI kepada Tim Investigasi, tidak ditindaklanjuti.

“Bahkan ada sekolah yang seharusnya dikunjungi dan dilakukan penyelidikan, tetapi Tim Investigasi tidak mendatangi sekolah tersebut. Ada apa…?” ujar Iwan.
Saat ditanya, kapan hasil Tim Investigasi akan disampaikan ke DPRD Jabar melalui Komisi V, Iwan mengatakan menurut rencana dilaporkan ke Komisi V pada hari Senin (9/4/2018).
Dalam rapat di Komisi V nanti, FAGI akan bukan dan beberkan bukti dan pengakuan dari pihak sekolah yang dimaksud. Namun, Iwan masih belum berkenan menyebutkan sekolah yang  jelas-jelas terjadi kebocoran.

“Nanti saja, Kang. Kita bukan saat Tim Investigasi melaporkan kerjanya ke Komisi V DPRD Jabar. Sabar aja,” tegasnya.* dar