728 x 90




Aher: Generasi Emas Indonesia Bergantung Jabar

  • Rubrik: Pendidikan
  • 05 April 2018 | 19:57 WIB
  • 00350
img
Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, dalam “Seminar Peran Jawa Barat untuk Indonesia Emas 2045” di Bale Sawala Kampus Unpad, Jatinangor, Rabu (4/4/2018).* humas jabar

KABUPATEN SUMEDANG, (PJO.com) -- Jawa Barat memiliki pengaruh signifikan menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045. Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan (Aher), mengatakan bonus demografi adalah peluas generasi emas Jabar untuk Indonesia.

Penduduk Jabar menyumbang proporsi 20% dari penduduk Indonesia atau 46,53 juta. Dengan rincian 23,6 juta laki-laki dan 23,57 juta perempuan (per 31 Desember 2017).

“Proyeksi tahun 2035 itu penduduk Jabar ada 57,13 juta orang dengan penduduk produktif usia 15-64 tahun mencapai 68,20% atau 38,96 juta orang. Merekalah generasi emas Jabar untuk generasi emas Indonesia,” kata Aher dalam “Seminar Peran Jawa Barat untuk Indonesia Emas 2045” di Bale Sawala Kampus Unpad, Jatinangor, Rabu (4/4/2018).

Indonesia pada 2045 akan memiliki bonus demografi dengan struktur populasi 70% berada pada kelompok usia produktif (15-64 tahun). Sedangkan 30% lainnya berada pada kelompok kurang produktif (usia di atas 65 tahun dan usia di bawah 14 tahun). 

Generasi emas Indonesia dicirikan dengan bonus demografi yang memiliki potensi produktif yang tinggi pada 2020-2045. Kata Aher, ke depan Jabar harus bersiap karena guncangan Jabar akan menciptakan guncangan nasional.

“Dalam perspektif agama, ibadah yang khusuk pun hanya akan terjadi kalau wilayah kita aman dan rakyatnya sejahtera. Untuk itulah, untuk menuju generasi emas, ujung sangat mikro dari semua pembangunan itu adalah pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan daya dukung alam untuk keberlanjutan pembangunan,” sambungnya.

Dalam 10 tahun terakhir, banyak kebijakan dalam 10 tahun terakhir yang menunjang kehadiran generasi emas. Kata Aher, pihakya menerapkan prinsip pendidikan sejak dini untuk menghasilkan sumber daya manusia/sumber daya insani Jabar.

Sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi yang memiliki daya saing tinggi, kepeloporan, self regulation, dan selalu berorientasi kepada hasil proses pendidikan yang lebih bermutu dari waktu kewaktu (quality result driven).

“Contohnya untuk penduduk SMA. Tahun 2008 itu hanya 825 ribu atau 45 persen, tahun 2017 sudah 2 juta lebih atau 81,25 persen penduduknya sudah SMA dan setingkatnya. Pembangunan kelas baru ada 50 ribu,” katanya. 

Aher menuturkan, pihaknya juga sudah menjadikan banyak perguruan tinggi negeri (PTN) dari sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) di Jabar. Di antaranya Unsika Karawang dan Unsil Tasikmalaya. Termasuk membuka kampus Unpad di Pangandaran. Tujuannya untuk mengoptimalkan potensi maritim besar di Jabar yang banyak dimanfaatkan oleh negara asing. 

Strategi berikutnya, lanjut Aher adalah menerapkan prinsip family planning. Dengan menerapkan pola pendidikan seperti ini, generasi emas Jabar akan meraih kesuksesan kembar, yaitu kesuksesan Imtaq dan Iptek pada berbagai jenjang pendidikan, kemudian menerapkan prinsip penjaminan mutu dan akuntabilitas proses penyelenggaraan pendidikan. Upaya ini untuk memberikan daya tarik kepada masyarakat dan dunia usaha agar mereka bisa memberikan dukungan investasi pendidikan.

“Juga menerapkan prinsip pendidikan dan riset untuk melahirkan dan mengembangkan inovasi berbasis Iptek sebagai solusi permasalahan daya saing serta melalui penyelenggaraan Science Techno Park (STP) pada level provinsi dan Techno Park pada level kabupaten/kota,” katanya.* dar