728 x 90




Peta Politik Pilkada KBB

  • Rubrik: Inspirasi
  • 14 Maret 2018 | 21:34 WIB
  • 01402
img

Oleh DR.W. GUNAWAN, M.Si

* Direktur Eksekutif Eksplorasi Dinamika dan Analisis Sosial (EDAS) Bandung

KPU Kabupaten Bandung Barat (KBB) menetapkan tiga pasanga cabup-cawabup yang akan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah Langsung Bandung yang diselenggarakan  serentak pada 27 Juni 2018. Masing-masing pasangan dan  dukungan partai politiknya sesuai nomor urut, adalah:

1. Elin S. Abubakar-Maman Sunjaya

     Partai Pengusung; PDI Perjuangan (12  kursi), PPP (5  kursi), PKB (4  kursi) = 21 kursi

     Partai Pendukung; Perindo,  Partai Berkarya.

2. Doddy Imron Cholid-Pupu Sari Rahayati

Partai Pengusung; Partai Golkar (6  kursi), Partai Gerindra (5  kursi), Hanura (4  kursi) =      15 kursi.

     Partai Pendukung; PBB

3. Aa Umbara-Hengky Kurniawan

Partai Pengusung; PKS (4  kursi), Partai Demokrat (4  kursi), Partai Nasdem (2  kursi), PAN (3  kursi), PKPI (1 kursi) = 14 kursi

Jika melihat jumlah kursi, maka peta kekuatan pemilukada KBB  pertama diduduki oleh paslon Elin S Abubakar-Maman Sunjaya dengan total dukungan 21 kursi yang dihasilkan dari koalisi PDI Perjuangan, PPP, PKB, dan didukung Perindo serta Partai Berkarya. Posisi ke dua ditempati paslon Doddy Imron Cholid-Pupu SR sebesar 15 kursi  dari total kursi di DPRD KBB dengan koalisi pengusung  P. Golkar,  P. Gerindra, Hanura, dan didukung PBB.  Paslon   Aa Umbara-Hengky Kurniawan dengan 14 kursi yang  dihasilkan  dari koalisi PKS, P. Demokrat, P. Nasdem, PAN, PKPI  

Berikut peta kekuatan dan kelemahan para paslon yang dilihat dari distribusi kekuatan politik di DPRD KBB:

Elin S. Abubakar-Maman Sunjaya, 21 kursi

 Partai Pengusung; PDI Perjuangan (12  kursi), PPP (5  kursi), PKB (4  kursi)

Kekuatan

* Secara politik pasangan ini lebih diunggulkan dibanding paslon lainnya, karena mendapat dukungan politik paling banyak dari parlemen.

* Figur Elin sebagai istri dari Abubakar yang tiada lain adalah Bupati Bandung Barat yang saat ini menjabat serta Ketua DPC PDI Perjuangan, memiliki popularitas lebih kuat dibanding paslon lain.

* Sebagai suami, Abubakar akan mendukung penuh pencalonan Elin, termasuk menggunakan mesin birokrasi Kabupaten Bandung Barat untuk memenangkan paslon ini.

* Kerja politik PDI Perjuangan di KBB dengan 12 kursimenunjukkan tingkat elektabilitas tertinggi. Kendati tidak selalu linier antara pilkada dengan pileg, namun kekuatan figur anggota legislatif bisa diandalkan untuk meraih dukungan suara.

* Selain PDI Perjuangan, paslon EMAS juga diusung PPP dan PKB dengan base line pemilih Islam dari lingkungan Nahdiyyin. Kelompok-kelompok pesantren berpotensi untuk dimobilisasi dukungannya.

* Dukungan Perindo dan Partai Berkarya dapat mendongkrak perolehan suara

* Preperensipilpres terhadap dukungan paslon berpotensi mendongkrak suara

Kelemahan

* Masih banyak PR yang belum tuntas selama kepemimpinan Abubakar, terutama infrastruktur, kemiskinan, lapangan pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan.

* Banyaknya PR yang belum terselesaikan selama pemerintahan Abubakar,bisa menjadi preseden buruk bagipasangan EMAS berpotensi kehilangan dukungan yang disebabkan tingkat kepuasan terhadap kepemimpinan petahana (perlu penelitian untuk mengukur tingkat kepuasan)

* Dinasti politik, banyaknya kepala daerah dengan latar belakang dinasti politik yang diciduk KPK, melahirkan preseden buruk bagi paslon EMAS

* Preperensipilgub Jabar terhadap dukungan paslon berpotensi bias

Doddy Imron Cholid-Pupu Sari Rahayati, total 15 kursi

   Partai Pengusung; Partai Golkar (6  kursi), Partai Gerindra (5  kursi), Hanura (4  kursi)

   Partai Pendukung; PBB                                                 -

Kekuatan

* Sebagai Ketua DPD P. Golkar KBB, Doddy IC dapat memaksimalkan kerja Partai Golkar yang masih cukup baik, terutama di kalangan pemilih45 th>

* Sementara kerja P. Gerindra dan Hanura juga dapat dimaksimalkan untuk mendongkrak suara pasangan ini, terutama dalam menghimpun pemilih muda.

* Dukungan PBB sebagai partai Islam (moderat) juga dapat menambah suara paslon.

* Sebagai new comer paslon ini berpotensi mendulang suara terutama dari pemilih yang tidak puas terhadap kinerja petahana.

Kelemahan

* Base line pemilih P. Golkar, P. Gerindra,  dan Hanura relatif sama, sehingga  akan mengalami kesulitan untuk dapat meraih suara di luar pemilih pendukung partai.

* Tingkat popularitas paslon tidak cukup signifikan meraih dukungan di luar suara partai.

* Preperensi pilpres terhadap dukungan paslon tidak banyak berpengaruh terhadap. dukungan suara, bahkan cenderung bias.

* Preperensi Pilgub Jabar terhadap paslon berpotensi bias.

Aa Umbara-Hengky Kurniawan, total 14 kursi (28%)

Partai Pengusung; PKS (4  kursi), Partai Demokrat (4  kursi), Partai Nasdem (2  kursi), PAN   (3  kursi), PKPI (1 kursi).

Kekuatan

* Dengan koalisi tiga partai nasionalis dan dua partai Islam pasangan ini berpotensi meraih dukungan signifikan, baik dari base line partai maupun dari pemilih luar partai.

* Popularitas cawabup sebagai public figure berpotensi mendulang suara dari pemilih tradisional,  pemilih pemula, maupun pemilih muda interval 30 th – 45th.

* Sebagai new comer, paslon ini berpotensi mendulang suara dari pemilih yang tidak puas terhadap kinerja petahana. 

* Berpotensi meraih  dukungan dari kalangan Islam (moderat) cukup signifkan.

Kelemahan

* Kerja partai koalisi berpotensi mengalami stagnasi.

* Komunikasi partai koalisi berpotensi mengalami hambatan karena perbedaan terhadap preperensi pilpres dan pilgub.

* Paslon bukan merupakan kader partai yang memungkinkan kerja politik parpol tidak maksimal

* Preperensi pilpres terhadap dukungan paslon  tidak banyak berpengaruh, bahkan cenderung bias

* Preperensi pilgub terhadap dukungan paslon cenderung bias.

Analisis

Memetakan pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Bandung Barat yang bersamaan dengan pilkada Gubernur Jabar pada pilkada serentak 27 Juni 2018, diprediksi dapat mempengaruhi preperensi sikap pemilih. Demikian halnya pilpres 2019 yang waktunya berdekatan dapat mempengaruhi keputusan-keputusan pemilih. Dengan demikian, peta politik pilkada KBB akan bertalian erat dengan perkembangan politik ditingkat regional Jabar maupun nasional, baik secara partai politik, bangunan koalisi, maupun figur-figur yang muncul pada pilgub dan pilpres yang akan datang.

Dengan kata lain, sikap pemilih pada pilkada KBB cenderung cair dan dinamis seiring perkembangan politik eksternal yang mempengaruhinya, sehingga ketiga pasangan calon memiliki peluang yang sama dalam meraih kemenangan.

Paslon Elis S. Abubakar-Maman Sunjaya yang didukung koalisi PDIP, PPP, dan PKB relatif lebih  diuntungkan dengan sosok Presiden Jokowi yang juga diusung ketiga parpol tersebut. Popularitas, elektabilitas figur Jokowi dan tingkat kepuasan kepemimpinannya bisa diandalkan untuk mendulang suara. Sementara itu, pengaruh pilgub Jabar cenderung tidak berpengaruh banyak kendati PPP dan PKB mengusung  Ridwan Kamil yang menjadi top of mind Cagub Jabar.    

Secara  politik, paslon Elin S. Abubakar-Maman Sunjaya di atas kertas lebih  diunggulkan daripada paslon lainnya. Kendati kinerja kepemimpinan Abubakar selama menjabat Bupati KBB belum menunjukkan hasil memuaskan (karena banyaknya PR yang belum terselesaikan), namun posisinya sebagai bupati saat ini berpotensi menggunakan kekuatan birokrasi dan anggaran (seperti bansos hibah, maupun program pembangunan lainnya) untuk meraih dukungan suara pemilih.

Pasangan ini juga  berpotensi dapat memaksimalkan kerja mesin politik, mengingat Abubakar sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan yang memiliki resources memadai untuk menggerakan mesin partai. Sementara preperensi terhadap pilpres pasangan ini lebih diuntungkan seiring  popularitas Jokowi terus menguat, dan ketiga partai pengusung paslon juga menggusung Jokowi pada pilpres 2019, sehingga perbedaan dukungan pada pilgub Jabar relatif tidak berdampak pada anjloknya dukungan.

Namun demikian, pasangan ini memiliki potensi kelemahan yang cukup besar, terutama terkait isu dinasti politik yang saat ini tengah hangat. Selain itu, kelemahan kepemimpinan petahana rawan untuk  dipolitisasi dan berpengaruh pada elektabilitas  paslon. Sementara politik identitas yang melekat pada PDI Perjuangan relatif dapat dinetralisir mitra koalisi.

Untuk paslon nomer urut 2 masih berpotensi meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya sebagai pendatang baru yang akan bersaing ketat dengan paslon nomer urut 3. Basis pemilih kedua paslon yang relatif sama akan semakin memperketat persaingan dalam memperoleh dukungan pemilih.

Sikap pemilih kedua paslon juga dipengaruhi  perkembngan politik ditingkat regional (Jabar) dan pilpres 2019. Sikap pemilih paslon 2 dan 3 yang berafiliasi pada pilpres 2019 akan cenderung di pilkada KBB. Demikian halnya pada pilgub Jabar. Diprediksi kedua pasangan akan mengalami banyak kesulitan untuk meraih dukungan suara yang signifikan.

Paslon nomer urut 2 yang diusung koalisi Partai Golkar, Gerindra, dan Hanura serta PBB sebagai partai pendukung  sangat minim figur popular untuk mendongkrak suara, baik popularitas secara individu maupun regional. Sosok Dedi Mulyadi yang maju sebagai cawagub Jabar diprediksi tidak memberikan pengaruh terhadap sikap pemilih, demikian halnya pengusungan Sudrajat sebagai cagub tidak berimplikasi langsung terhadap kecenderungan pemilih. Sementara sosok Prabowo sebagai tokoh nasional masih potensial untuk meng-endorse paslon nomer urut 2. 

Secara popularitas, ketokohan dan kekuatan figur  paslon nomer urut 3 relatif lebih berpotensi meraih dukungan pemilih terutama di kalangan pemilih tradisional, pemilih pemula, dan pemilih muda. Popularitas cawagub sebagai public figure dapat diandalkan untuk meraih dukungan suara di kalangan pemilih tradisional dan pemula. Demikian halnya ketokohan Deddy Mizwar sebagai artis yang diusung Partai Demokrat untuk maju di pilgub Jabar, serta kader emas AHY dapat dimaksimalkan untuk mendongkrak dukungan pemilih, selain itu ada sosok Dede Yusuf yang dapat dimaksimalkan untuk meraih  dukungan.

Dukungan  tambahan juga berpotensi jika mesin politik PKS yang dikenal solid dapat bekerja secara maksimal. Figur Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Jabar dua periode dapat memberikan pengaruh positif jika dikelola secara optimal.*