728 x 90




2019, Ditargetkan Kawasan Kumuh di Jabar akan Hilang

  • Rubrik: Kesehatan
  • 19 Januari 2018 | 07:02 WIB
  • 01632
img
Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, di sela-sela meresmikan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Kamis (18/1).* humas jabar

KABUPATEN CIREBON, (PJO.com) -- Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar (Demiz), meresmikan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Kamis (18/1). Ada dua wilayah kerja yang menjadi target pengentasan kekumuhan di Kecamatan Ciledug, yaitu di Desa Jatiseeng dan Kelurahan Sumber.

Kotaku merupakan program pemerintah untuk mengentaskan kekumuhan lingkungan. Pemprov Jabar menargetkan pada 2019 kawasan kumuh akan hilang. Program ini menerapkan gerakan 100-0-100. 100% pertama kota tanpa kumuh bisa mengakses air bersih; Angka 0, yaitu bagaimana mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen. 100% ke dua, kotaku mampu menciptakan sanitasi yang baik.

"Dengan 100-0-100 ini, kita harapkan bisa menciptakan masyarakat atau keluarga yang sehat. Kalau masyarakat sehat, akan tercipta generasi yang baik. Masyarakat bisa melakukam aktivitas apapun," ujar Wagub dalam sambutannya di acara peresmian Kotaku Kabupaten Cirebon.

"Kotaku ini menjadi sangat strategis, sebab ini sangat menentukan derajat atau tingkat kesehatan masyarakat dan derajat kesehatan masyarakat ini ditentukan sebagian besar oleh lingkungan. Percuma ada pendidikan gratis kalau masyarakatnya tidak sehat, masyarakatnya tidak produktif," sambung Demiz.

Wagub juga mengungkapkan bahwa pemerintah tidak bisa sendiri mengatasi masalah kemiskinan dan kekumuhan. Untuk itu, dia juga mengajak kepada semua pihak bekerja sama dalam mengatasi masalah kawasan kumuh. Menurut Wagub, kawasan kumuh tidak lepas dari masalah persampahan.

"Oleh karena itulah, saya meminta semua komponen masyarakat untuk bahu-membahu menghilangkan masalah kekumuhan di sekitar kita, baik di kota maupun di desa," ajak Wagub.

Ada sejumlah permasalahan kawasan kumuh di Kabupaten Cirebon, yaitu:

1. 99% bangunan hunian tidak memiliki keteraturan;

2. 99% bangunan hunian memiliki atap, lantai, dinding tidak sesuai persyaratan teknis;

3. 99% kawasan permukiman tidak terlayani jaringan jalan lingkungan yang memadai;

4. 99% kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki kualitas buruk;

5. 89% masyarakat tidak terpenuhi kebutuhan air minimal 60 liter/detik/orang;

6. 89% bangunan hunian permukiman tidak memiliki kloset (leher angsa) yang terhubung dengan tanki septic;

7. 90% sampah domestik rumah tangga pada kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA kurang dari 2 kali seminggu;

8. 70% kawasan permukiman tidak memiliki ketersediaan prasarana/sarana proteksi kebakaran.

Untuk mendukung terwujudnya tujuan program Kotaku ini, di tingkat kelurahan/desa telah dibentuk Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Sejak 2007-2017 di Kabupaten Cirebon telah terbentuk 195 BKM, dengan jumlah relawan saat ini yang terlibat aktif sebagai anggota BKM sebanyak 2.535 orang.

Pada 2015-2017 infrastruktur terbangun di Kabupaten Cirebon meliputi jalan lingkungan sepanjang 20.260 meter, drainase sepanjang 9.752 meter, bangunan rumah sebanyak 184 unit, 4 unit TPS, 16 unit MCK, 8.821 meter Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), serta 13 unit Hidran.

Desa Jatiseeng merupakan salah satu desa yang tersentuh oleh program Kotaku. Hal ini karena kawasan kumuh di desa ini pada awalnya seluas 14,25 hektar. 

Pendanaan program Kotaku di Desa Jatiseeng bersumber dari program kolaborasi tahap 1 (2015) sebesar Rp182,9 juta, program kolaborasi tahap 2 (2016) sebesar Rp128,8 juta, dan program PLPBK 2017 sebesar Rp576,8, sehingga selama 3 tahun terakhir Desa Jatiseeng telah menerima bantuan sebesar Rp888,6 juta.

Wagub juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada BKM Jatiseeng Sejahtera, beserta enam KSM, yaitu: KSM Asir Jaya, KSM Adil, KSM Sejahtera, KSM Swadaya, KSM Lagondi, dan KSM Makmur, yang telah berhasil merealisasikan pembangunan infrastruktur permukiman di Desa Jatiseeng.

Pembangunan infrastruktur permukiman tersebut, meliputi:

1. SPAL sepanjang 163 meter dengan 70 KK penerima manfaat oleh KSM Pasir Jaya;

2. SPAL sepanjang 203 meter dengan 86 KK penerima manfaat oleh KSM Adil;

3. SPAL sepanjang 744 meter dengan 212 KK penerima manfaat oleh KSM Lagondi;

4. Jalan Rabat Beton sepanjang 281 meter dengan 86 KK penerima manfaat, oleh KSM Sejahtera;

5. Jalan Rabat Beton sepanjang 311 meter dengan 117 KK penerima manfaat oleh KSM Makmur;

6. Drainase sepanjang 260 meter dengan 27 KK penerima manfaat oleh KSM Swadaya;

7. Jalan Rabat Beton sepanjang 410 meter dengan 119 KK penerima manfaat oleh KSM Asir Jaya; dan

8. Jalan Rabat Beton sepanjang 447 meter dengan 103 KK penerima manfaat oleh KSM Lagondi.* dar