728 x 90




Melodrama Peringatan Hari HAM

  • Rubrik: Inspirasi
  • 08 Desember 2017 | 17:41 WIB
  • 01547
img
Wagoen.* ist.

Oleh Wagoen

10 Desember 1948 PBB mendeklarasikan Hak Asasi Manusia (HAM), yang berlaku untuk umat manusia. Sedangkan secara formal, hari HAM diperingati sejak 1950. Hari ini, puluhan tahun berikutnya, khususnya di negeri ini isu HAM terus dikumandangkan, tetapi banyak di antara kita yang abai pada implementasi Kewajiban Azasi Manusia (KAM). Bahkan hingga kini tidak ada peringatan KAM. Padahal, sebelum menuntut hak, maka semestinya kewajiban dulu ditunaikan.

Inilah yang saya maksud sebagai melodrama atau drama yang memilukan sekaligus ironis. Oleh sebab itu, jangan heran jika banyak orang yang secara sadar menghina, menghardik, bahkan mencaci-maki orang atau pihak lain dengan mengatasnamakan HAM. Hak sudah dijadikan dewa untuk kebebasan. Padahal, orang atau pihak yang bersuara atau bertindak atas nama HAM tapi tidak mengindahkan KAM, sama saja dengan melanggar HAM itu sendiri. Lihat konten media sosial yang bertebaran dengan ujaran kebencian, sebab kebebasan sudah dianggap ideologi dan ketertiban dianggap hanya tanggungjawab aparat keamanan. Itulah cara berpikir picik; menuntut kebebasan atas nama HAM, tetapi mengingkari menciptakan ketertiban. Oleh karena itu, saya menggagas dan mengusulkan secara terbuka agar juga diperingati hari Kewajiban Azasi Manusia di negeri ini. Ada peringatan Hari HAM, ada juga peringatan Hari KAM.

Penulis secara subjektif menganggap peringatan Hari KAM menjadi penting dan relevan di negeri ini, sebab isu SARA acapkali dijadikan lahan bagi segelintir orang untuk memorakprandakan kohesi sosial atas nama HAM. Isu SARA adalah bahaya laten di republik yang heterogen ini, yang setiap saat dapat melahirkan konflik horizontal bahkan konflik vertikal. Selamat memperingati Hari HAM, sambil mari kita gagas peringatan Hari KAM.* Penulis, Analis Kebijakan Pemerintahan, Dosen Universitas Jenderal Ahmad Yani