728 x 90




Konser Amal Tujuh Windu Ati Sriati Bernyanyi

  • Rubrik: Kesenian
  • 25 November 2017 | 06:56 WIB
  • 00366
img
Ati Sriati . * ist.

“Gadis bernyanyi di cerah hari, nada beruntai tinggi menusuk hati, lukiskan mega, senja, ombak, dan perahu, bawa jiwaku serta mengalun melagu....”

 

KONSISTEN dengan seni suara klasiknya, Ati Sriati akan menggelar konser amal bertajuk Tujuh Windu Ati Sriati Bernyanyi “Gadis Bernyanyi Nyaring di Cerah Hari”  yang akan dihelat pada hari Sabtu, tanggal 25 November 2017 dengan agenda open gate pukul 18.45 WIB, dinner pukul 19.00 WIB, dan konser pukul 20.00 WIB. Konser yang dikemas dengan memadukan musik, narasi, dan multimedia dalam satu rangkaian ini akan diselenggarakan di Cafe Tungku Joglo Lezat, Pendopo Wisma Joglo yang terletak di Jalan Raya Dago Pakar Resort No. 19 Bandung.          

Konser yang dilaksanakan dalam rangka memperingati ulang tahun Ati Sriati yang ke-70 tahun ini, merupakan sebuah dedikasi Ati Sriati yang konsisten dalam dunia seni suara klasik selama tujuh windu. Selain itu, konser ini pun diselenggarakan untuk penggalangan dana amal bagi Pusat Pengembangan Potensi Anak (Pusppa) Surya Kanti Bandung.

Ati Sriati merupakan penyanyi sopran yang telah berkiprah selama 56 tahun di bidang seni suara klasik. Ia diperkenalkan dengan musik klasik sejak kanak-kanak oleh orangtuanya. Berlatih secara otodidak atau mandiri, Ia mulai bernyanyi sejak usia 15 tahun saat bergabung dengan kelompok angklung SMPN 5 Bandung dan SMAN 2 Bandung. Sampai akhirnya bertemu dengan pengajar sekaligus penyanyi  Corry Tobing pada tahun 1969, ia memulai belajar vokal secara serius yang membuat dirinya semakin dikenal luas di Indonesia. Meraih juara pertama lomba bintang radio dan televisi jenis seriosa tingkat Jawa Barat tujuh kali berturut-turut (1975-1982). Ia juga meraih juara pertama lomba bintang radio dan televisi jenis seriosa tingkat nasional pada tahun 1982. Mengikuti konser musik di Bandung, Jakarta, Surabaya, Melbourne dan Singapura. Pernah terlibat dalam Opera Lagio Conda tahun 1978, Fragment Opera La Boheme di CCF dan UPH. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Ati Sriati masih bernyanyi seperti burung kutilang, memiliki suara yang khas dan memikat hati para penggemarnya.

Dalam konser kali ini, Ati Sriati (sopran) akan berkolaborasi dengan penyanyi Christopher Abimanyu (tenor) dengan diiringi pianis Adelaide Simbolon. Sebuah konser yang akan memberikan nuansa klasik dan memanjakan jiwa setiap orang yang menonton. Menggaet sutradara ternama, Wawan Sofwan, untuk menyajikan sebuah tontonan yang tidak biasa. Dengan sajian seni suara klasik, konser amal ini didukung oleh para donatur dan telah dipadati penonton dengan kapasitas 200 orang lebih yang berasal dari berbagai kalangan.

Melalui konsernya, Ati Sriati ingin menunjukkan bahwa seni suara klasik masih menjadi primadona bagi para penikmatnya, kekuatannya tidak hanya terletak pada hiburan semata, melainkan bisa dalam bentuk renungan, harapan, bahkan inspirasi. Eksistensi seni suara klasik telah teruji oleh waktu, mampu melampaui batas generasi. Menampilkan lagu berbahasa Indonesia, Italia dan Jerman. Setidaknya ada 11 lagu solo yang akan dinyanyikan Ati Sriati yaitu Gadis Bernyanyi Nyaring di Cerah Hari karya Mochtar Embut, Wanita karya Ismail Marzuki, Puisi Rumah Bambu karya F.X. Soetopo, Melatiku Sutji karya Harry Singgih, Mari Berdendang karya Cornel Simanjuntak, Ebben? Ne Andro Lontana dari opera La Wally karya Alferdo Catalani, Un Bel Di Vedremo dari opera Madama Butterfly karya Giacomo Puccini, Il Bacio (The Kiss Wlatz) karya Luigi Arditi, Porgi, Amor, Qualche Ristoro dari opera Le Nozze di Figaro karya Wolfang Amadeus Mozart, Qui La Voce Sua Soave dari Opera I Puritani karya Vincenzo Bellini, dan Mein Herr Marquis dari opperet Die Flendermaus karya Johann Straus.

Penampilan khusus dari guest star Christopher Abimanyu yang akan menyanyikan lagu Bintang Sejuta karya Ismail Marzuki, dan Dein Ist Mein Ganzes Herz karya Fransz Lehar. Rangkaian Konser akan diakhiri dengan duet Ati Sriati dan Christopher Abimanyu lewat lagu O Suave Fanciulla karya G. Puccini, O Sole Mio karya Eduardo Capua.

Konser ini digagas dan disutradarai oleh Wawan Sofwan dan diselenggarakan oleh mainteater, sebuah kelompok yang sudah malang melintang dalam dunia seni pertunjukkan. Melibatkan juga Heliana Sinaga sebagai narator, Faisal Syahreza sebagai penulis teks narasi, Rudi Wijaya sebagai pianis latihan, Deden Jalaludin Bulqini sebagai penata artistik dan multimedia, Aep Suherman sebagai asisten penata artistik dan multimedia, Aji Sangiaji sebagai penata lampu, oymakeup sebagai penata rias, Dasep Sumardjani sebagai manajer panggung, Fuad Jauharudin, Yosef M. Ibrahim, dan Dwi Aryanto Arnando sebagai asisten manajer panggung.

Di bagian produksi, konser ini pun melibatkan Osi prisepti sebagai pimpinan produksi, Dita Rosmaritasari sebagai desain grafis, Kamil Mubarok sebagai publikasi, M. Sa’iquddin Ashshofy dan kolega sebagai dokumentasi, Hanna Rosiana dan Rifka Nurul Awaliyah sebagai penerima tamu, dan volunteer Fizal Aji Pratama, Feliana Eka Dewi, M. Yusuf Fahreza, Divta Auly, Arina Nurhusna, Bayu Agumsyah, serta M. Fauzan Pramono.

Duduk dan menyaksikan Ati Sriati bernyanyi dalam suasana Bandung yang syahdu tentu akan memberi pengalaman berarti dan makna tersendiri. Konsistensi  Ati Sriati selama tujuh windu dalam dunia seni suara klasik patut diapresiasi. Lagu-lagu yang tersaji tentunya memberi pengalaman dan inspirasi untuk terus melestarikan seni suara klasik di tengah berkembangnya musik populer di negeri ini.* Kamil Mubarok