728 x 90




Jabar Berpotensi Jadi Pusat Industri Keuangan Syariah

  • Rubrik: Agama
  • 08 Agustus 2017 | 07:52 WIB
  • 02360
img
Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar, bersama Ketua MUI saat membuka Tasyakur Milad ke-25 tahun dan peresmian kantor pusat PT. BPR Syariah Amanah Ummah di Leuwiliang Kabupaten Bogor, Senin (7/8).* humas jabar

BOGOR, (PJO.com) -- Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, mengatakan jumlah penduduk muslim di Jabar yang kini mencapai 40,9 juta jiwa, memiliki potensi pasar keuangan syariah yang sangat terbuka.

Ia pun menyambut baik banyaknya perguruan tinggi di Jabar yang menghadirkan program-program studi ekonomi berbasis syariah yang nantinya dapat mengisi ruang kosong di industri keuangan syariah. Hal ini menurutnya, akan mampu meminimalisasi terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di bidang ekonomi syariah.

"Jabar sudah sepantasnya menjadi yang terdepan dan menjadi pusat industri keuangan syariah di Indonesia," kata Deddy usai menghadiri Tasyakur Milad ke-25 tahun dan peresmian kantor pusat PT. BPR Syariah Amanah Ummah di Leuwiliang Kabupaten Bogor, Senin (7/8).

Deddy mengungkapkan, berdasarkan hasil Survey Nasional Literasi Keuangan (SNLK) tahun 2016 tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia naik menjadi 67,82%. Sedangkan persentase masyarakat yang berada di kelompok "well literate" naik menjadi 29,66%.

"Alhamdulillah indeks inklusi keuangan di Jabar sudah 68,32%, artinya di atas rata-rata nasional dan indeks literasi keuangan kita di angka 38,70% tertinggi ke dua setelah DKI Jakarta," ungkapnya.

Namun demikian, indeks inklusi keuangan syariah di Jabar sudah lebih, baik yaitu mencapai 21,56%.

Deddy menuturkan, poin penting yang harus menjadi fokus perhatian para pelaku jasa keuangan syariah adalah memperkuat perannya dalam kegiatan sektor riil, seperti pembiayaan syariah untuk industri pariwisata serta unit-unit usaha syariah potensial lainnya seiring dengan meningkatnya tren halal lifestyle global.

"Saya harap jasa keuangan syariah terus mengedukasi dan transaparan kepada masyarakat atau calon nasabah tentang karakteristik produk dan layanan jasa keuangan yang tersedia," harapnya.

Selain itu, jasa keungan syariah dituntut lebih kreatif dalam mencari sumber dana murah serta menciptakan produk dan jasa keungan yang menarik, mudah diakses, dan berbiaya murah. Terutama untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, santri pondok pesantren, ibu rumah tangga, petani, pedagang, dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Dengan begitu, lembaga keuangan syariah dapat menjadi penggerak sektor riil untuk membuka lebih banyak kesempatan kerja sehingga dapat mengurangi ketimpangan dan menghadirkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

"Semoga industri jasa keungan syariah di Jabar terus tumbuh menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi inklusif, menarik investasi, menggerakkan tabungan domestik dan meningkatkan daya saing," tutur Deddy.

Secara umun saat ini Indonesia menjadi negara dengan jumlah lembaga keuangan syariah terbesar di dunia yaitu sebanyak 5 ribu lebih. Meliputi 34 Bank Syariah, 58 Operator Takaful atau asuransi syariah, 7 model Ventura Syariah, 163 BPR Syariah, 1 Pegadaian Syariah, dan sekitar 4.500 lebih Koperasi Syariah atau Baitul Maal wat Tamwil. Bahkan Indonesia juga telah menciptakan Syariah Online Trading System pertama di dunia.* dar