728 x 90




Pedamaran Berduka, Guru inspiratif Itu Kini Telah Tiada

  • Rubrik: Sosok
  • 02 Agustus 2017 | 11:23 WIB
  • 07288
img
(Almh.) Hj. Masnung.*

TANGGERANG, (PJO.com) -- Dari kisah guru inspiratif banyak tersirat makna, bahwa guru inspiratif adalah guru yang mengenal identitas jati dirinya sebagai seorang pendidik dan tenaga kependidikan.

Dalam menjalankan tugasnya, biasanya seorang guru inspiratif ini selalu diawali dengan cinta kasih sayangnya kepada setiap anak didik. Hal inilah yang sering dilakukan oleh salah seorang guru teladan dari Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komring Ilir (OKI), Sumatera-Selatan. Sebut saja dia adalah Hj. Masnung, ibu guru di era tahun ’60-an ini, yang kini telah tiada pergi untuk selamanya, sebagai seorang guru senior. Ia sangat menginspirasi banyak orang, terutama dalam kedisiplinan.

Dalam hal ini, dia selalu menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah yang baik. Itu yang penulis rasakan sendiri ketika duduk di bangku kelas 2 SDN 6 Pedamaran. Sebagai tenaga pendidik di sekolah dasar (SDN) kala itu, banyak teman sejawatnya sama-sama seorang guru yang telah lama wafat, mendahului kita semua, seperti ibu guru Yainun, Maimunah, guru Mastan, ibu Siti Aminah.

Namun, semenjak kepergian Hj. Masnung, untuk menghadap Sang Khalig, pada Selasa, 1 Agustus 2017, pukul 11.30 WIB, di Tanggerang, Banten, Pedamaran sangat berduka. Kini masih ada satu orang guru lagi sampai saat ini masih sehat, beliau yaitu ibu guru Kartini, ibunda dari Fitriani.

Hj. Masnung kelahiran 1924, istri dari Haji Nangcik mantan Camat Mensuji OKI ini, dianugrahi 8 orang putra/putri. Sebahai anak ke empat, Suhiyar Nangcik SH., mewakili keluarga besarnya menyampaikan ucapan terima kasinya.

“Kami seuruh keluarga besar Haji Nangcik mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian, doa, serta bantuan, baik moril maupun materil, kepada almarhumah ibunda kami tercinta Hj. Masnung, yang telah dipanggil oleh Allah SWT kemarin Selasa tepatnya di bulan kemerdekaan, 1 Agustus 2017. Semoga amal ibadah Bapak/Ibu semua dibalas oleh Allah SWT. Amin,” ucapnya.

Garis keturunan dalam bakat proses mengajar di sekolah, Hj. Masnung memang dari seorang Ayah Guru Masalan, putra seorang tokoh pada zaman penjajahan Belanda. Dengan mobil Balai Pustakanya, Masalan sebagai seorang guru tidak segan-segan keliling kampung masuk kampung untuk memberikan ilmu kepada masyarakat Pedamaran saat itu. Dari mulai  tahun 1970-an, Hj. Masnung mulai meniti kariernya sebagai guri di SDN 02, SDN 06, dan SDN 04 di Kecamatan Pedamaran. Kini guru yang selalu memakai baju kebaya disanggul rapi itu telah tiada meninggalkan kita semua. Hanya doa yang dapat kami sampaikan Selamat jalan ayunda, selamat jalan bu guru, guru kami, guru kita semua.* dar