728 x 90




Maraknya Kasus Bunuh Diri, Memprihatinkan

  • Rubrik: Peristiwa
  • 31 Juli 2017 | 20:35 WIB
  • 02924
img
Ketua P2TP2A Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan,Netty pada Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional XXIV dan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2017 di Sport Arcamanik, Jalan Pacuan Kuda No. 120 Bandung, Minggu (30/7).* humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) – Maraknya permasalahan sosial yang ada di masyarakat, sangat memprihatinkan. Terlebih tindak kekerasan yang menimpa anak-anak baik fisik, psikis dan seksual. Ditambah saat ini yang membetot perhatian tentang kasus bunuh diri, bukan saja dilakukan oleh dewasa namun sekarang tidak segan dilakukan anak-anak. 

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan, mengatakan anak merupakan produk keluarga. Apa pun yang dilakukan menjadi pilihan anak-anak, tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari pola pengasuhan, interaksi, dan komunikasi dalam keluarga.

“Kalau pola ini dilakukan secara baik, adanya kehangatan, keterbukaan, dan kebersamaan maka setiap masalah yang dihadapi anak pasti akan diketahui orangtua. Setiap masalah pasti bisa didiskusikan apa yang menjadi solusi dan jalan keluarnya,” kata Netty pada Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional XXIV dan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2017 di Sport Arcamanik, Jalan Pacuan Kuda No. 120 Bandung, Minggu (30/7).

Menurut Netty, ada jenis orangtua yang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pengasuhan, sehingga membuat anak menjadi introvert.

"Sejatinya, anak dan keluarga tidak boleh ada sekat. Masalahnya anak-anak introvert ini cenderung mendapatkan orangtua yang tidak peduli dan empati apa yang dialami anak, sehingga ketika anak mengalami masalah dan merasa tidak ada jalan keluar, merasa sendirian dan akhirnya pilihan-pilihan yang diambil merugikan diri sendiri,” jelasnya.

Selain pengasuhan dan tipe kepribadian anak yang introvert, Netty mengingatkan untuk ditajamkannya social awarness. Masyarakat harus dapat mengidentifikasi anak yang mengalami depresi dan masalah berada sekolah atau di tengah lingkungan masyarakat.

“Peringatan Hari Keluarga dan Hari Anak ini dapat menjadi momentum kita bahwa anakku adalah anakmu, anakmu adalah anakku dalam konteks perlindungan. Siapa pun yang menemukan anak Indonesia bermasalah, murung tidak ceria, tidak sehat dan kekurangan gizi seharusnya dapat difasilitasi dengan berbagai peran yang dimiliki oleh unsur masyarakat maupun unsur pemerintah,” harap Netty. * dar