728 x 90




Pedamaran Bergoyang, Yulinar Dilarang

  • Rubrik: Sosok
  • 27 Juli 2017 | 04:48 WIB
  • 05917
img

PEDAMARAN OKI, (PJO.com) -- Siapa tidak kenal Yulinar. Hampir semua masyarakat di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komring Ilir (OKI) Sumatera-Selatan, mengenal Yulinar. Mulai dari anak anak remaja orang dewasa, semua kenal dengan Yulinar.
Sebagai biduan (penyanyi) dangdut, Yulinar paling tenar  dibandingkan teman-temannya sesama biduan. Betapa tidak, karenaYulinar, di setiap tempat dirinya manggung atau mentas di panggung hiburan, dalam berbagai event apa pun Yilinarlah, yang sering didaulat oleh penonton untuk berjoget bersama dengan para tamu undangan. Tetapi, ketenaran Yulinar ini, sayangnya bukan karena dia hebat bernyanyi, atau memiliki suara yang merdu.

Namun, Yulinar, si pemilik suara pas-pasan ini lebih dikenal dengan goyangan erotisnya, yang cenderung mengundang gairah birahi para lelaki. Kini, Yulinar karena ulah seronoknya sendiri tidak diterima lagi ikut manggung di Pedamaran.

Lismiati Faisol, salah seorang ustazah dari desa Pedamaran, kerap  miris melihat dan menyaksikan penampilan seronok dari biduanita ini.

"Rusak sudah generasi muda apabila selalu disuguhi hiburan yang tidak layak!  Padahal ramadhan baru saja pergi  meninggalkan kita,  tidakkah berbekas keberkahan ramadhan itu, kalau kita selalu menyaksikan aksi pornografi yang sering disuguhkan di acara-acara pernikahan," ujar Lismiati.

Menurutnya, memang hak setiap orang untuk mendapatkan hiburan, tetapi sudah sangat tidak pantas jika hiburan yang kita nikmati tersebut banyak mendatangkan mudhoratnya.
Dikatakannya, biduan juga manusia. Siapa pun tidak bisa melarang dan menghalangi kalau biduan itu untuk mencari rezeki melalui ekspresi lagu. Tetapi sebagai masyarakat, punya hak juga untuk melarang ketika seni dan ekspresi yang ditontonkan akan merusak moral para generadi muda.
Sekadar mengimbau kepada yang berkompeten, agar segera membuat aturan yang jelas. Paling tidak, dibuat semacam fakta integritas kepada setiap masyarakat yang akan menyelenggarakan hajatan, memakai orgen atau orkes. Mereka disepakati agar mematuhi norma-norma yang ada. Silakan saja menyewa biduan, asalkan pakaiannya tidak seronok. Selain itu,  biduannya dilarang mendatangi para tamu undangan yang lagi duduk, dimintai saweran dengan menggoyangkan pinggul di depan muka para tamu tersebut.

"Ini jelas sangat memalukan," kata Taswin DP, Ketua LSM Mitra Kejati.
Karena selama ini, goyangan erotis mengundang birahi lelaki ini masyarakat menganggapnya hiburan mewah dan biasa. Bahkan biduan yang berpenampilan seksi,  juga mereka bilang menarik. Bila ini dibiarkan terus-menerus, degradasi moral di Pedamaran yang sama-sama kita cintai ini bakalan terus terjadi, apabila para tokoh masyarakat dan alim ulamanya diam. Lebih parah lagi, pemerintah --pejabat daerah, kades, camatnya-- tutup mata.* dar