728 x 90




Tingginya Jumlah Penduduk Jabar tidak Mengancam Kebhinekaan

img
Wagub Deddy Mizwar, bersama Ketua MPR, Zulkifli Hasan, menghadiri acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di kantor Dinas Pendidikan Jabar, Bandung, Kamis (15/6).* humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) -- Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per tanggal 31 Desember 2016, jumlah penduduk di Provinsi Jawa Barat mencapai 46,7 juta jiwa atau 20 persen dari jumlah penduduk Indonesia dan dua kali lipat dari jumlah penduduk Benua Australia. Berbagai suku, etnis, dan agama ada di Jabar.

Menurut Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar, keberagaman tersebut diyakininya tidak sedikit pun mengancam kebhinekaan. Tidak sekali pun ia mendengar adanya konflik antaretnis di Jabar.

"Tidak ada masalah di Jabar, sekarang diisukan terus masalah kebhinekaan dan sangat sensitif. Berbagai etnik ada di Jabar saat ini, pernah nggak ada konflik antaretnik, antaragama? Nggak ada di Jabar. Mungkin di daerah lain ada. Saya lihat nggak ada sama sekali di Jabar dan nyaman-nyaman saja," ungkap Deddy di acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di kantor Dinas Pendidikan Jabar, Bandung, Kamis (15/6).

Deddy menuturkan, jumlah penduduk yang besar dan beragam tidak berpotensi mengancam kebhinekaan. Sebaliknya, dengan 97 persen jumlah penduduk Jabar yang beragama Islam, justru membawa keberkahan bagi seluruh masyarakatnya.

"Ini salah satunya dipengaruhi bahwa Islam rahmatan lilalamin. Di Jabar mayoritas beragama Islam, yaitu 97 persen. Ini harus tetap terjaga sampai nanti pilkada, pileg, dan pilpres," ujarnya.

Dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan ini, Deddy pun menjelaskan kepada peserta yang merupakan para siswa dari berbagai SMU di Kota Bandung. Empat pilar kebangsaan, yaitu  Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 45 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR,  NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara harus betul-betul dipahami dan ditanamkan kepada generasi muda.

"Dengan sosialisasi empat pilar ini, saya harap lebih terbuka lagi pemahaman tentang apa itu Pancasila. Saya harap jangan hanya hafal silanya, tapi memahami maknanya karena bukan sebuah peristiwa yang pendek untuk melahirkan Pancasila itu, ini sebaiknya ditanamkan kepada generasi muda," jelasnya.

"Apalagi sekarang zaman sosmed, ketika hasut menghasut menjadi tidak bertanggung jawab, bisa membuat berita sendiri menyebarkannya. Jadi pemahaman tentang empat pilar ini harus dimiliki lengkap oleh generasi muda kita," tambah Deddy.* dar