728 x 90




Netty: Sekolah Lima Hari, Harus Ada Kajiannya

  • Rubrik: Pendidikan
  • 17 Juni 2017 | 20:35 WIB
  • 00075
img
Bunda Literasi Jabar, Netty Heryawan, pada acara Berbagi dan Berbuka Jabar Ekspres Bersama Anak Yatim dan Dhuafa, di Gedung Graha Pena Jabar Ekspres, Jalan Soekarno Hatta No 627 Bandung, Rabu (14/6).* humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) -- Hangatnya isu rencana penerapan sistem sekolah lima hari dalam sepekan, Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Heryawan, menanggapi secara netral. Ia secara tegas menyerahkan sepenuhnya pada kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI dan para pakar. 

"Apa pun (keputusan) yang diambil, kebijakan dari tingkat pusat atau dari kementerian, tentu harus berdasarkan kajian para ahli yang memang expert di bidangnya masing-masing, termasuk dalam konteks memutuskan lama jam belajar anak-anak kita," kata Netty.

"Mau dibuat lima hari atau mau dibuat full-day, tentu harus ada kajiannya. Itu yang terpenting," ungkapnya, usai acara Berbagi dan Berbuka Jabar Ekspres Bersama Anak Yatim dan Dhuafa, di Gedung Graha Pena Jabar Ekspres, Jalan Soekarno Hatta No 627 Bandung, Rabu (14/6).

Netty berharap hasil putusan Kemendikbud dapat mewujudkan penyelenggaraan sistem pendidikan, termasuk di dalamnya kurikulum dan metodologi yang mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak, serta sesuai dengan fungsi pendidikan sebagai ruang tempat anak belajar lebih tahu (learn to know), mau melakukan sesuatu (learn to do), mulai menjadi sesuatu (learn to be), dan bisa berinteraksi di lingkungannya (learn to live together).

Menurut Netty, dunia anak adalah dunia bermain dan berekspresi, sehingga sejatinya pendidikan akan membuat ruang-ruang kebebasan berekspresi bagi anak, dan membuka ruang menyatakan pendapat maupun ruang untuk mengoptimalkan berbagai jenis kecerdasan anak.

Perlu digarisbawahi, kata Netty, bukan hanya kecerdasan hitung (matematik) yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan, tetapi juga kecerdasan pemecahan masalah (problem solving), kreativitas, berpikir kritis, dan kecerdasan lainnya.

"Jadi jangan sampai ada sebuah pemaksaan, ide-ide atau gagasan-gagasan orang dewasa yang kemudian tidak memenuhi kebutuhan fisik, emosi, dan sosial anak," pungkas Netty.

Netty berpendapat, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh lama belajar anak, tapi seperti apa metodologi yang digunakan dalam proses belajar mengajar, serta seperti apa SDM yang terlibat.

Netty sangat berharap anak-anak bisa menikmati masa tumbuh kembangnya, baik di rumah maupun di sekolah, menikmati setiap mata pelajaran yang diselenggarakan, menyukai guru-guru dan cara guru menyampaikan pelajaran. Netty juga menginginkan sekolah menjadi rumah ke dua bagi anak, yang menjamin rasa nyaman, aman, dan memberikan penghargaan yang seluas-luasnya bagi kecerdasan yang mereka miliki.

"Bukan sekadar lima hari, tapi kalau gurunya melakukan kekerasan juga buat apa lima hari? Tetap saja tidak akan melahirkan output atau keluaran pendidikan yang baik," ucap Netty.

"Kita sudah terlalu sering mendengar anak-anak mengakhiri hidupnya karena nilainya tidak memuaskan orangtua. Itu terjadi lagi beberapa waktu yang lalu kan," lanjutnya.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI berencana untuk menerapkan kebijakan lima hari sekolah per delapan jam sehari setiap pekannya. Kemendikbud mengklaim kebijakan tersebut merupakan implementasi dari progran Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang menitikberatkan pada lima nilai utama, yakni religius, nasionalis, gotong royong, mandiri serta integritas.* dar