728 x 90




CSR Bank bjb Hidupkan Kembali Sekolah Islam di Jeddah

  • Rubrik: Pendidikan
  • 11 Juni 2017 | 15:19 WIB
  • 00219
img
Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, bersama rombongan saat mengunjungi Indonesian Islamic International School (IIIS), yang terletak di Jalan Abu Layla Al Asari, di Distrik As Safa, Jeddah, Jumat (9/6) sore waktu setempat.* humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) -- Program CSR Jabar dari bank bjb telah menjadi jalan keluar bagi permasalahan pokok dalam penyelenggaraan pendidikan  di sekolah khas bagi keluarga TKI, Indonesian Islamic International School (IIIS) Jeddah.

Hal tersebut terungkap saat kedatangan rombongan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), bersama direksi Bank bjb, mengunjungi sekolah yang terletak di Jalan Abu Layla Al Asari, di Distrik As Safa, Jeddah, Jumat (9/6) sore waktu setempat.

Aher, yang hadir didampingi Direktur Utama Bank bjb, menyampaikan dukungannya berkat kinerja CSR Jabar.

"CSR Bank bjb akan terus kita dorong untuk kemajuan berbagai bidang, terutama pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Kami sangat senang dapat membantu banyak keluarga, di mana pun mereka berada," ujar Aher, yang bersama rombongan disambut  hangat keluarga besar IIIS Jeddah.

Keberadaan IIIS di Jeddah menjadi pilihan tempat sekolah bagi warga Indonesia, terutama anak-anak TKI. Pasalnya, keberadaan Sekolah Indonesia-Jeddah (SIJ) sebagai satu-satunya institusi pendidikan negeri  di sini memiliki daya tampung berlebih, SIJ saat ini sudah memiliki anak didik sekitar 1.400 anak.

Konjen RI di Jeddah, Mohammad Hery Saripudin, pun mengaku gembira, berkat upaya CSR Jabar yang sudah menjangkau warga Indonesia di Saudi.

"Warga kita di Jeddah sangat banyak. Kebutuhan ruang kelas bagi anak-anak cukup tinggi, suatu pencapaian yang baik saat CSR Jabar dapat memberikan sumbangsih berarti bagi pendidikan, kontribusi Jabar bagi peningkatan kualitas SDM di luar negeri," tuturnya.

Kepala IIIS Jeddah, Eri Wargi Mariti, yang merupakan seorang doktor perempuan jebolan Universitas Al Azhar Mesir, bersama beberapa penggiat wanita lainnya telah lama berjuang demi berdirinya Sekolah Islam di Jeddah. Ia mengungkapkan, tidak mudah memang mendirikan sekolah di Saudi, masalah perizinan, dari Kerajaan maupun dari Kemendikbud, masalah pembiayaan operasional sekolah, dan ketersediaan tenaga pengajar, kesemuanya itu selalu menjadi kendala pokok. 

"Itulah kenapa IIIS dalam perjalanannya pernah dua kali ditutup. Namun kami para wanita di sini bersikeras terus berjuang demi berdirinya sekolah yang menjadi harapan dan kebutuhan warga kita," kata Eri.

"Ada pepatah, di balik pria sukses selalu ada wanita kuat di belakangnya. Namun kami di sini (IIIS, Red.) semua para wanitalah yang telah berhasil menghadirkan sekolah di negeri orang. Para suami cukup tampil setia dan mendukung kami," seloroh Eri.

"Kami berterima kasih kepada CSR Jawa Barat, kepada Bapak Gubernur, kepada bank bjb, ada program peduli pendidikan, sehingga sekolah kami dapat beroperasional kembali," tutur Eri.

IIIS di Jedah merupakan bangunan rumah dua lantai yang disewa menjadi sekolah, yang cukup leluasa untuk menampung ratusan anak didik. Ruang-ruang di dalamnya telah diset menjadi kelas-kelas kecil untuk beberapa rombongan belajar. Beberapa furniture  pun tampak telah mengisi ruang kelas. Untuk sementara IIIS menyelenggarakan jenjang pendidikan sekolah dasar.* dar