728 x 90




Ngariung.id, Kepedulian Terhadap Pudarnya Kesundaan

  • Rubrik: Inspirasi
  • 05 Juni 2017 | 13:20 WIB
  • 00208
img
Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, meresmikan Komunitas Ngariung sekaligus meluncurkan website ngariung.id di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata No. 1, Bandung, Sabtu (3/6). * humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), meresmikan komunitas Ngariung sekaligus meluncurkan website ngariung.id di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata No. 1, Bandung, Sabtu (3/6). Komunitas ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin pudarnya rasa dan cinta kedaerahan Sunda dari masyarakat, khususnya generasi muda Sunda saat ini.

Ngariung hadir sebagai perantara warga Sunda yang ingin berkontribusi di tatar Sunda dengan warga Sunda penerima manfaat. Aher menyambut baik hadirnya komunitas ini. Dia menilai komunitas ini adalah sebuah gagasan tidak sederhana untuk masa depan Jabar dan Indonesia.

“Ini inisiatif yang bagus, sesama pemuda-pemuda asal Jabar punya kegelisahan yang diejawantahkan dalam bentuk yang positif. Bagaimana anak-anak Jabar agar lebih maju, berperan di berbagai bidang kehidupan,” ujar Aher usai acara peluncuran.

“Saya kira kalau ngariung (kebersamaan) ini terus dibangun, dikolaborasi lebih lanjut, kemudian ketika bertemu dengan orang Jabar yang sukses di berbagai bidang kehidupan menyatu kesuksesannya, termasuk mampu menumbuhkan donasi untuk memberdayakan masyarakat, ini sangat bagus. Pada hari ini banyak orang yang menyendiri (individualisme),” papar Aher dalam sambutan.  

Aher khawatir terhadap kondisi saat ini, masyarakat dan anak muda terjebak dalam sikap individualisme. Sikap individualisme sulit mendatangkan kebahagiaan meskipun sukses secara materi atau nonmateri. Kesuksesan akan mendatangkan kebahagiaan apabila bisa berbagi, sehingga menimbulkan kesalehan sosial.

Masyarakat Sunda memiliki falsafah silih asah, silih asih, silih asih. Komunitas Ngariung menilai falsafah ini mengajarkan kita untuk saling dukung, saling peduli, dan saling bimbing. Nilai-nilai tersebut masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Namun, meningkatnya individualisme di era modern kini mulai mengikis nilai-nilai leluhur tersebut.

Komunitas ini juga menilai saat ini semakin sedikit masyarakat Sunda paham, cinta, dan bangga terhadap identitasnya sebagai orang Sunda. Banyak warga Sunda ingin berkontribusi nyata pada tanah kelahirannya, namun memiliki keterbatasan. Sementara Tanah Sunda memiliki beragam potensi sumber daya alam, seni-budaya, kuliner, bahasa, dan hal lainnya.

Melalui komunitas ini diharapkan masyarakat Sunda bisa lebih mengenal, memahami, dan mencintai identitas mereka sebagai orang Sunda. Dengan begitu, akan hadir kontribusi dan inisiatif positif untuk memajukan masyarakat Sunda. Untuk itu, potensi yang dimiliki bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya lihat belum banyak mereka yang menyatakan kebanggaannya terhadap identitas mereka sebagai orang Sunda. Sebenarnya banyak orang Sunda di luar sana yang ingin berkontribusi terhadap tanah kelahirannya, namun belum terlihat karena adanya keterbatasan,” ungkap Sri Izzati, salah satu inisiator Komunitas Ngariung.

“Kami menyadari bahwa Tanah Sunda ini sesungguhnya tersembunyi, memiliki beragam potensi yang kalau misalnya kita wujudkan atau kita perjuangkan bisa membawa perubahan yang bisa menuai manfaat untuk orang-orang di sekitarnya,” lanjut Sri.

Ada berbagai kegiatan dalam Ngariung untuk menghimpun kebersamaan di antara warga Sunda di seluruh Jabar dan Indonesia, seperti ngariung inspiratif, udunan, proyek social, dan  pelatihan. * dar