728 x 90




62 Desa Dicanangkan Jadi Kampung KB Sabilulungan

  • Rubrik: Kesehatan
  • 26 April 2017 | 22:31 WIB
  • 00752
img
Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bandung, H. Marlan, S.IP., M.Si., pada pencanangan Kampung Keluarga Berencana (KB) yang akan dilaksanakan di 62 desa pada 31 kecamatan, bertepatan dengan Rapat Kerja KKBPK di Gedung Dewi Sartika, Rabu (26/4). * ist.

SOREANG, (PJO.com) -- Kampung Mekarlaksana, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, dipilih sebagai percontohan Kampung Keluarga Berencana (KB) oleh pemerintah pusat.

Ketua Pusat Pelayanan Terhadap Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung,  Hj. Kurnia Agustina Naser, mengungkapkan  kampung KB tersebut sebagai upaya dalam mendukung nawacita ke-3 pemerintahan Jokowi-JK, yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan dengan implementasi nyata Kampung KB.

“Sebetulnya Kabupaten Bandung sudah terlebih dahulu menjalankan giat seperti program Kampung KB, tetapi belum menyeluruh. Baru tahun ini Kampung KB akan dilaksanakan secara nasional. Dengan sasaran kampung di 62 desa dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung. Kampung Mekarlaksana jadi percontohannya,” ucap Nia di sela-sela acara Pencanangan Kampung KB dan Rapat Kerja Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang dipusatkan di Gedung Dewi Sartika Soreang, Rabu (26/4).

Teh Nia begitu sapaanya, menuturkan melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Bandung, 62 desa tersebut dicanangkan untuk dibangun Kampung KB Sabilulungan, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung, serta mewujudkan keluarga kecil berkualitas dengan semangat sabilulungan dan kemandirian.

Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Bandung, H. Marlan, S.IP.,M.Si., memaparkan Kampung KB  memprioritaskan ketahanan keluarga melalui delapan faktor pendukung, seperti dari segi agama, pendidikan, ekonomi, sosial budaya, permukiman, pelestarian lingkungan hidup, kasih sayang,  dan reproduksi. Menurutnya, kedelapan faktor ini akan berindikasi terhadap peningkatan kualitas keluarga serta akan memengaruhi perilaku masyarakat.

“Kampung KB ini harus memiliki prioritas ketahanan keluarga melalui delapan faktor. Ke depannya tentu saja akan memengaruhi pola pikir, kebiasaan, dan perilaku masyarakat itu sendiri,” tegas Marlan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penduduk Kabupaten Bandung tahun 2016 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 3.596.623 jiwa dengan laju pertumbuhan 1,77%. Hal ini katanya, diimbangi pula dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 70,98 point.

“Meningkatnya jumlah penduduk, selain karena peningkatan AHH (Angka Harapan Hidup), karena terjadinya urbanisasi. Kabupaten Bandung ini seperti bunga yang harumnya mengundang siapa pun ingin mendekat, dan implementasi Kampung KB dengan delapan faktor tadi bisa turut berkontribusi,” jelasnya.

Mengenai Kampung Mekarlaksana, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Marlan sangat mengapresiasi. Karena penerapan delapan faktor sudah terimplementasi langsung untuk masyarakat. Di kampung tersebut, wilayah yang sebelumnya belum tertata masyarakatnya, kini sudah melakukan upaya peningkatan kualitas keluarga, seperti adanya posyandu, penyuluhan, dan bimbingan teknis untuk masyarakat, upaya peningkatan ekonomi melalui pelatihan dan penanaman tanaman yang berdaya jual, kemudian dari segi permukiman dan lingkungan, masyarakat sudah tidak ada yang buang air besar sembarangan (BABS). * drd