728 x 90




Posyandu Wijayakusumah Bersaing di Tingkat Nasional

  • Rubrik: Kesehatan
  • 19 April 2017 | 09:15 WIB
  • 00198
img
Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil, memberikan sambutan pada verifikasi Lomba Posyandu Tingkat Nasional yang dihadiri langsung oleh tim verifikasi di Posyandu Wijayakusumah, RW 13 Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Senin (17/4). * humas setda kota bandung

BANDUNG, (PJO.com) -- Posyandu Wijayakusumah mempunyai lebih dari 15 inovasi yang mengantarkannya menjadi delegasi Jawa Barat pada Lomba Posyandu Tingkat Nasional. Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil (Emil), mengatakan inovasi tersebut merupakan hasil dari perubahan pola pikir yang pemerintah kota tanamkan kepada para kader.

“Bagi pemerintah kota, menjadi yang terbaik itu tidak hanya memberikan fasilitas fisik. Tapi pertama, yang saya ubah adalah pola pikirnya, yaitu bagaimana setiap lembaga harus bisa berinovasi dalam hal apa pun, bermula dari pemecahan masalah,” ujar Emil saat memberikan sambutan pada verifikasi Lomba Posyandu Tingkat Nasional yang dihadiri langsung oleh tim verifikasi di Posyandu Wijayakusumah, RW 13 Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Senin (17/4).

Posyandu yang melayani 119 bayi dan balita pada 2017 ini memiliki banyak program inovatif. Salah satunya adalah Kasaba (Kader Sayang Balita) yang memberikan layanan pijat bayi, sekaligus melatih para orangtua untuk memijat bayinya sendiri. Program yang bekerjasama dengan Rumah Sakit Borromeus itu bertujuan agar bayi selalu sehat, nyaman, dan meningkatkan kualitas penyerapan air susu ibu (ASI).

Selain melakukan pijat bayi di posyandu, ada layanan online Kasaba, yaitu para kader bisa dipanggil untuk melakukan pijat di rumah. Pada saat memberikan pelayanan, para kader juga akan memberikan penyuluhan dan konsultansi mengenai kesehatan dasar bagi ibu dan anak.

Selain program-program kesehatan dasar, Posyandu Wijayakusumah menambah meja baru setiap hari buka posyandu. Meja tersebut diisi dengan desk layanan konsultansi bagi anak berkebutuhan khusus oleh psikolog yang didanai dari swadaya masyarakat. Warga yang melakukan konsultasi tidak dipungut biaya apa pun. Di meja yang sama, warga juga bisa mendapatkan pengetahuan tentang perlindungan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi.

Ada pula meja layanan konsultansi ekonomi bagi warga yang datang ke posyandu. Di sana, warga yang memiliki karya untuk dijual bisa memanfaatkannya untuk media promosi dan ruang pamer. Tidak jarang, warga memanfaatkan desk ini untuk berbagi informasi seputar bidang sosial dan ekonomi.

Melalui dana swadaya masyarakat dan donasi, Posyandu Wijayakusumah juga memiliki fasilitas ambulans yang tidak hanya digunakan untuk RW 13, tetapi untuk siapa pun yang membutuhkan. Ambulans tersebut seringkali digunakan untuk mengantar jenazah dan untuk keadaan darurat.

Ketua Posyandu Wijayakusumah, Imas Masriah, mengatakan dalam setahun pihaknya juga melaksanakan program lain di luar urusan bayi dan balita, seperti pemantauan jentik nyamuk untuk mencegah penyakit demam berdarah. Ada pula tim Pos Patih, atau Pemantau Kebersihan, yang bertugas untuk berkeliling di sekitar RW untuk mengajari anak-anak agar membuang sampah pada tempatnya.

“Kami kerahkan kader di setiap RT agar setiap orang sadar akan pentingnya kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya,” tutur Imas.

Inovasi lainnya adalah program Dana Sehat. Program ini semacam dana asuransi kesehatan bagi warga. Dengan premi sebesar Rp500 per jiwa, posyandu ini telah memiliki dana kesehatan untuk masyarakat sebesar Rp15.250.000.

“Anggotanya saat ini sudah mencaai 80% dari jumlah penduduk,” imbuh Imas.

Sejalan dengan konsep smart city yang diusung pemerintah kota, Posyandu Wijayakusumah juga sudah terkoneksi dengan e-Posyandu. Program ini merupakan portal database kesehatan bayi dan balita se-Kota Bandung yang langsung terkoneksi ke Dinas Kesehatan.

“Jika ada bayi atau balita yang menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas gizi, ada notifikasi ke Dinas Kesehatan agar segera diberikan penanganan,” jelas Imas.

Inovasi-inovasi tersebut diapresiasi oleh tim verifikasi dari pemerintah pusat. Ketua tim verifikasi, Aam, menilai Posyandu Wijayakusumah telah sejajar dengan posyandu-posyandu terbaik di tingkat nasional.

“Tahun ini ada enam posyandu yang menjadi nominator posyandu terbaik di tingkat nasional, yaitu Kota Bandung di Jawa Barat, Bandar Lampung di Provinsi Lampung, Samarinda di Kalimantan Timur, Mojokerto di Jawa Timur, Solok di Sumatera Barat, dan Pagar Alam di Sumatera Selatan,” katanya. * Mifa