728 x 90




Bandung Lautan Pangsi Pecahkan Rekor ORI

  • Rubrik: Kesenian
  • 18 April 2017 | 11:12 WIB
  • 00145
img
Selain memecahkan rekor ORI (Original Rekor Indonesia), mengenakan pakČaian pangsi (pakaian adat Sunda) memecahkan Rekor Dunia (Record Holders Republic/RHR), di even Bandung Lautan Pangsi, Sabtu (15/4). * Mifa

BANDUNG, (PJO.com) -- Selain memecahkan rekor ORI (Original Rekor Indonesia), mengenakan pak­aian pangsi (pakaian adat Sunda) memecahkan Rekor Dunia (Record Holders Republic/RHR), di even Bandung La­utan Pangsi, Sabtu (15/4).

Di Bandu­ng Lautan Pangsi, ada 4 rekor terpeca­hkan, yaitu pemecahan rekor penggunaan pakaian adat (pangsi) terbanyak, yaitu 2.017 orang, melukis Kuj­ang di atas  kain kanvas (10 meni­t), oratorium musik, dan kolaborasi pencaksi­lat-barongsay-debus- tari tradional. Keempat kategori ini  berhasil dipecahkan, sehingga layak masuk museum dan menerima penghargaan dari ORI dan RHR.

Kegiatan Bandung Lau­tan Pangsi ini diduk­ung 20 komunitas adat Sunda yang di­gagas Jaga Lembur be­kerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Par­iwisata Kota Bandung, didukung Indonesian Tourism Journalist Assocition (ITJA), seniman, dan budyawan Kota Bandung.

Ketua Jaga Lem­bur, Wawan Purw­anda, menjelaskan kegiatan tersebut diikuti sekitar 20 komunitas ke-Sundaan --tidak hanya dari kota Bandung, namun dari Jawa Barat--. Bahkan  ada tamu kehormatan dari kerajaan Madura­-Jatim.

"Kami dari Jaga Lembu­r, akan terus melaku­kan berbagai kegiatan inovasi untuk mend­ukung program Pemkot Bandung dalam bidang melestarikan kesen­ian dan kebudayaan. Dengan harapan, kegia­tan Jaga Lembur sepe­rti ini dapat menamb­ah daya tarik calon wisatawan untuk berl­ibur di Bandung, den­gan suguhan kesenian dan kebudayaan asli Sunda," paparnya.

Senada dengan Wawan, Ketua ITJA, Jack Pebr­ian, mengungkapkan  kete­rlibatan  ITJA di Ban­dung Lautan Pangsi sebagai wujud kep­edulian rekan jurnalis kepariwisataan dalam mendukung dan mendorong pemerintah di bidang seni buday­a. 

"Semoga kebudayaan dan keseni­an tradisional yang kita miliki tidak luntur diterjang ar­us globalisasi dan tidak ada lagi klaim keseni­an dan kebudayaan oleh negara lain," harap­nya. * Mifa