728 x 90




Elih: Jika UN Bocor, Subrayon yang Tanggungjawab

  • Rubrik: Pendidikan
  • 13 April 2017 | 20:40 WIB
  • 00176
img
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Elih Sudiapermana, pada kegiatan “Bandung Menjawab” di Media Lounge Balai Kota Bandung, Kamis (13/4). * humas setda kota bandung

BANDUNG, (PJO.com) -- Ujian nasional (UN) sebagai salah satu tahap penentuan kelulusan jenjang pendidikan non perguruan tinggi di jenjang SD (Sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) untuk lingkungan Pemerintah Kota Bandung, merupakan suatu proses yang sangat memerlukan perhatian lebih baik dari segi pelaksanaan teknis maupun manajerialnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, pada kegiatan “Bandung Menjawab” di Media Lounge Balai Kota Bandung, hadir Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Elih Sudiapermana, untuk memaparkan proses UN, Kamis (13/4).

Elih mengatakan proses UN tahun ini ada dua macam, yaitu dengan komputer dan kertas pensil. Secara koreksi saja yang berbeda.

“Paling dekat akan dilaksanakan pada 15-16 April dan 22-23 April untuk Ujian Kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C,” tuturnya.

Elih memaparkan untuk di Kota Bandung,  Ujian yang Menggunakan Komputer (UNDK) adalah pada Paket C sebanyak 2.080 dan Paket B 851 orang, sedangkan yang menggunakan kertas dan pensil (UNKP), Paket A 290 orang; Paket B, 619 orang; dan Paket C, 1.492 orang.

“Karena dalam UU No. 23 Tahun 2014, pendidikan nonformal menjadi kewenangan kabupaten/kota dan program Paket C (Setara SMA) merupakan bagian pendidikan nonformal jadi masih dikelola pemerintah kota,” tegas Elih.

Untuk waktu pelaksanaan yang jatuh pada Sabtu dan Minggu, Elih mengatakan hal tersebut dikarenakan lokasi pelaksanaan UN adalah pada sekolah-sekolah.

“Karena tempatnya di ruangan kelas SMA- SMK, jadi kita melaksanakan UN pada hari libur sehingga ruangannya dan komputernya  bisa digunakan,” ujar Elih.

Elih menambahkan, untuk Paket A (setara Sekolah Dasar) memang tidak ada UNDK (Ujian Nasional Dengan Komputer), karena dikhawatirkan akan menghambat proses pengerjaan UN.

“Untuk paket A hanya dengan UNKP, karena bila peserta belum mahir menggunakan komputer takutnya menghambat,” paparnya.

Selain UN, Elih memaparkan minggu depan untuk tingkat SMP akan mengadakan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) yang teknis pelaksanaan dilaksanakan setelah UN.

“USBN ini secara teknis dilimpahkan kepada pemerintah kabupaten/kota dan teknis operasional juga dilimpahkan juga pada sekolah-sekolah,” jelas Elih.

Untuk soal-soalnya, Elih mengatakan 25% adalah hasil penyusunan Kementrian Pendidikan dan 75% adalah hasil penyusunan kita.

“Soal tersebut akan diramu di kita dan akan dibuat variasi sebanyak 15 macam dalam 52 paket dan akan berbeda pada setiap subrayon, sehingga terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan,” jelas Elih.

Untuk masalah kebocoran, Elih menerangkan bahwa nanti akan menjadi tanggung jawab subrayon yang menerima soal.

“Dengan variasi seperti ini apabila ada yang bocor, maka hanya pada subrayon itu dan tidak bisa mempengaruhi sub rayon lain,” tegasnya.

Elih mengatakan, UN untuk saat ini adalah bukan syarat kelulusan utama, tetapi syarat pelengkap bagi kelulusan siswa. * Mifa