728 x 90




Di Jabar, HIV-AIDS Masih Jadi Isu Utama Bidang Kesehatan

  • Rubrik: Kesehatan
  • 05 April 2017 | 11:44 WIB
  • 00272
img
Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar, melakukan pertemuan dengan Vice President AHF, Peter Reis, di Gedung Sate, Selasa (4/4). * humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Komisi Penanggulangan AIDS Jabar menggandeng lembaga nirlaba asal Amerika Serikat, AIDS Healthcare Foundation (AHF), dalam upaya mencegah dan menanggulangi HIV-AIDS di Jabar yang kini masih menjadi isu utama di bidang kesehatan.

Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar, usai melakukan pertemuan dengan Vice President AHF, Peter Reis, di Gedung Sate, mengungkapkan walaupun saat ini  dipastikan tidak ada satu pun provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari HIV-AIDS, namun kerja sama tersebut merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan pengetahuan komprehensif tentang bahaya dan pencegahan HIV-AIDS kepada semua lapisan masyarakat Jabar.

"AHF ini sangat konsen dan terus berkomitmen menanggulangi HIV-AIDS di seluruh dunia. Kita bersama-sama akan terus mengurangi jumlah penderita HIV-AIDS demi terwujudnya masyarakat Jabar yang sehat," ungkap Deddy, Selasa (4/4).

Pada 2016, AHF telah memberikan dukungan kegiatan penanggulangan HIV-AIDS pada layanan kesehatan di tiga daerah di Jabar, yaitu Kabupaten Purwakarta, Indramayu, dan Pangandaran.

"Kita ingin perluasan dukungan AHF tidak hanya di tiga daerah itu, tetapi di 27 kabupaten/kota di Jabar," katanya.

Organisasi yang berdiri pada tahun 1987 ini juga telah mendapatkan izin dari Kementerian Luar Negeri RI dan sudah menandatangani MoU dengan Kementerian Kesehatan RI dalam kerja sama penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia.

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987, jumlah kasus HIV-AIDS di Indonesia hingga  triwulan II tahun 2016 berjumlah 208.920 (HIV) dan 82.556 (AIDS), yang tersebar di 407 kabupaten dan kota. Di Jabar, berdasarkan data Komisi Penaggulangan AIDS Jabar kasus HIV-AIDS, dari tahun 1989 sampai Desember 2016 sebanyak 26.422 kasus HIV dan 8.043 kasus AIDS.

"Per Desember 2016 Jabar peringkat ke empat kasus HIV positif terbanyak setelah DKI Jakarta, Jatim, dan Papua. Untuk AIDS, Jabar di peringkat ke enam terbanyak setelah Jatim, Papua, DKI Jakarta, Bali dan Jateng," terang Deddy.

Pola penularan HIV di Jabar semula berasal dari kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) dan pengguna narkoba suntik. Pola penularan kemudian bergeser pada seks Lelaki Berisiko Tinggi (LBT) dan Wanita Penjaja Seks (WPS) yang berdampak pada ibu rumah tangga dan anak. Kumulatif kasus AIDS dari tahun 1989-2016 pada kelompok ibu rumah tangga melebihi jumlah kasus pada wanita penjaja seks dengan jumlah kasus sebanyak 1.012 kasus, sedangakan WPS sebanyak 382 kasus. Kasus HIV positif baru pada anak usia 0-14 tahun selama tahun 2016 ditemukan sebanyak 130 kasus.

"Upaya advokasi juga akan terus kita lakukan kepada pengambil kebijakan, perubahan perilaku pada kelompok risiko tinggi dan peningkatan pengetahuan pada kelompok risiko rendah, yaitu remaja dan ibu rumah tangga," ucap Deddy.

Ia berharap kerja sama ini mampu mencapai tiga tujuan utama, yaitu zero new infection, zero AIDS related death, dan zero discrimination di Indonesia khususnya di Jabar. * pjo