728 x 90




Teater Tjaroeban Gelar Festival Teater Cirebon Ke-3

  • Rubrik: Kesenian
  • 30 Maret 2017 | 13:28 WIB
  • 00400
img

BANDUNG, (PJO.com) -- Festival Teater Cirebon siap digelar oleh Teater Tjaroeban untuk kali ke-3 di Gedung Kesenian Nyimas Rarasantang, Kompleks Perkantoran Bima, Cirebon, pada 2-11 April 2017. Acara yang akan berlangsung selama 10 hari ini mengahadirkan sejumlah pertunjukan teater, workshop artistic pertunjukan, dan diskusi mengenai seni pertunjukan yang akan diisi oleh kelompok serta tokoh teater dari beberapa kota dari Pulau Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur.

Demikian rilis yang diterima PJO.com, Rabu malam (29/3).

Panitia Festival Teater Cirebon 3, Radian Panji Igami, menjelaskan Festival tahunan yang diselenggerakan setiap April oleh Teater Tjaroeban ini mengangkat tema “Membumikan Tradisi” dengan maksud mencoba menggali, mendekatkan, serta mengangkat kekayaan budaya local sebagai focus tematik, baik secara bentuk, cerita, ataupun konsep pertunjukan teater yang akan ditampilkan oleh pengisi acara.

Selama 10 hari, Festival ini akan menyuguhkan 19 pertunjukan teater dari sejumlah kelompok teater Indonesia, yang terbagi menjadi dua kategorip ertunjukan. Pertama, Pertunjukan Reguler, terdiri atas 16 pertunjukan teater selama 8 hari. Ke dua, Pertunjukan Bintang Tamu, terdiri atas tiga pertunjukan teater oleh tokoh teater Tanah Air. Dalam sehari ada dua pertunjukan teater, yaitu pukul 15.00 WIB dan 19.30 WIB.

Hari pertama akan diisi oleh Teater Cassanova (Bandung) dengan judul “Grounded, Insatalasi Rindu”, dilanjut dengan Sandiwara Jayabaya Cirebon pada malam hari. Hari ke dua, diisiTeater KMT ISBI (Bandung) dengan judul “Governanati Vollia” pada sore hari dan disusul lakon “Syekh Siti Jenar” oleh Teater Awal, Bandung. Pada hari ke tiga, pertunjukan diawali oleh Hima Teater ISBI Aceh denganjudul “Ala Hai Doe”. Setelah itu,  Hima Teater IKJ akan tampil dengan judul “Surat Pada Gubernur”. Hari ke empat, diisi oleh Teater Payung Hitam dengan karya “Host Paste” di malam hari. “Sarip Tambak Oso BukaMulut” oleh Hima Teater STKW Surabaya mengawali hari ke lima, sebelum lakon “Inga Benga” oleh Nara Teater NTT. Hari ke enam “Sabai Nan Aluih” akan ditampilkan Hima Teater ISI Padang Panjang, dilanjut oleh Sanggar Seni Darsah Palu denganjudul “Ngata Toro”. Hima Teater ISI Yogyakarta dengan judul “Pintu Janur” tampil pada hari ke tujuh, yang disusul oleh Teater Satu Lampung dengan lakon “Wanci”. Pada hari ke delapan, lakon “Kahiu Menangis” oleh ITBT Kalimantan tampil di sore hari, dilanjut dengan lakon “020492” oleh PadepokanSeni Madura. Rawayan Ceta Tasikmalaya dengan lakon “Lawan Catur” tampil pada hari ke sembilan, dilanjut oleh SFN Labs NTB dengan lakon “Tuak Tiga Kopek”.

Selain pertunjukan teater, akan ada Workshop Artistik Pertunjukan olehDosen Artistik ISBI Bandung, Joko Kurnain, M.Sn., pada 3-10 April 2017, pukul 09.00 WIB-selesai.

Selama tiga  hari para peserta mendapatkan materi dan dilanjut dengan penerapan materi secara langsung selama empat hari dengan hasil yang akan dipamerkan pada penutupan acara. Pada 11 april 2017, pukul 15.00 WIB, akan diadakan diskusi santai membahas tema acara “Membumikan Tradisi” bersama tokoh teater, PutuWijaya.

Hari terkahir festival akan ditutup dengan pertunjukan khusus oleh N. Riantiarno, tokoh teater Indonesia asal Cirebon yang berkiprah dengan Teater Koma. Bersama istri, Ratna Riantiarno, akan membawakan lakon “Tanda Cinta”. Selanjutnya Putu Wijaya akan menutup seluruh rangkaian acara Festival Teater Cirebon 3. Bersama istri, Dewi Putu Wijaya, serta anaknya, Taksu Wijaya, akan membawakan lakon “OH” sebagai bentuk interpretasi tema “Membumikan Tradisi”.

Pada Festival Teater Cirebon 3, Teater Tjaroeban selaku penyelenggara didukung sejumlah pihak, salahsatunya Bakti Budaya Djarum Foundation dan sejumlah kelompok teater Cirebon, yaitu Teater Awal Cirebon, Teater Reka, Teater Cupumanik, Teater Roempoet, Teater K12B, Teater Anksa, danTeater Rantai Biru.

“Diharapkan melalui acara ini dapat meningkatkan kembali apresiasi seni, khususnya seni pertunjukan di wilayah Cirebon dan Indonesia umumnya, serta dapat menjadi wadah bersilaturahmi antar penggiat seni, masyarakat umum, maupun pihak-pihak yang terkait di bidang seni dan budaya,” kata Radian. * pjo