728 x 90




Kelana Roda Dua, Angkat Kopi Khas Jawa Barat

  • Rubrik: Kesenian
  • 19 Desember 2016 | 14:56 WIB
  • 00122
img
2.000-an motor usai melakukan konvoi damai dalam rangkaian pemutaran perdana film "Kelana Roda Dua" dalam acara nonton bareng di Spasial Bandung. * humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan komunitas pencinta motor dalam rangka mengangkat sekaligus mengedukasi masyarakat terhadap Kopi Java Preanger asal Gunung Puntang, Bandung Selatan, yang saat ini belum banyak dikenal masyarakat. Kolaborasi ini juga salah satu upaya Pemprov Jabar untuk mempromosikan Gunung Puntang sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik di bumi Parahyangan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.  

Bentuk dari kolaborasi unik ini adalah pembuatan film semi dokumenter yang bertajuk "Kelana Roda Dua". Film yang disutradarai oleh Omar Annas ini mengisahkan tentang perjalanan Omar untuk menjelajahi secara acak alam Jabar menggunakan motor kesayangannya, yang kemudian menemukan keindahan alam dan kenikmatan rasa kopi Gunung Puntang milik Ayi Sutedja. 

“Film ini sangat unik, mengolaborasikan pencinta motor, nikmatnya kopi, dan indahnya alam. Uniknya lagi, inisiatif ini muncul dari Pemprov Jabar. Aku sendiri kaget waktu diajak kerja sama, seperti doa yang terjawab bisa berkontribusi untuk Jabar,” kata Omar ketika pemutaran perdana film Kelana Roda Dua di Spasial, Jl. Gudang Selatan Bandung, Minggu (18/12) malam.  

Kepala Bagian Humas Pemprov Jabar, Ade Sukalsah, menyebutkan sebelum pembuatan film ini pihaknya melakukan riset komprehensif mengenai kopi Java Preanger yang ternyata memiliki nilai historis tinggi. 

“Bibit kopi inilah yang pertama kali dibawa Belanda untuk ditanam di nusantara. Jadi, ini adalah leluhur dari varian kopi-kopi terbaik di Indonesia, seperti Toraja, Gayo, dan Sidikalang. Sekarang ini, dikembangkan di Gunung Puntang oleh Kang Ayi Sutedja,” papar Ade.  

Tidak tanggung-tanggung, bahkan biji kopi milik Ayi Sutedja ini pun menyabet predikat kopi terbaik di kontes Specialty Coffee di Atlanta, AS, pada bulan Maret lalu. Prestasi membanggakan inilah menjadi alasan terciptanya film Kelana Roda Dua. 

Ade menambahkan, selain menjadi salah satu wilayah perkebunan kopi terbaik di Indonesia, Gunung Puntang menawarkan keindahan alam yang luar biasa, serta sarat akan nilai historis. Hal ini sejalan dengan program Pemerintah Indonesia dalam upaya mencapai 20 juta wisatawan pada tahun 2019.  

“Di Gunung Puntang ada reruntuhan Stasiun Radio Malabar milik Belanda. Lagu Halo-Halo Bandung terinspirasi dari percakapan nirkabel pertama pada tahun 1917 yang menghubungkan antara Stasiun Radio Malabar dan Belanda. Melalui film ini juga, Pemprov Jabar berharap generasi muda dapat terinspirasi oleh prestasi dari Ayi Sutedja dan kreativitas Omar Annas. Kami mengajak generasi muda untuk berkarya secara positif, jelajahi daerah yang indah di rumah kita sendiri di Jabar dan menghindari kegiatan yang berujung kepada kekerasan,” kata Ade. 

Pemutaran perdana film "Kelana Roda Dua" ini dikemas dalam acara nonton bareng di Spasial Bandung dengan diawali berkendara motor bersama dengan jalur Gedung Sate - Jl. Asia Afrika - Jl. Braga - Jl. Ahmad Yani (Kosambi) - Gudang Selatan. Sekurangnya 200 motor dari berbagai jenis seperti motor tua, custom, hingga keluaran tahun 2.000-an terlibat dalam konvoi damai ini.  

"Anak muda adalah agen perubahan. Untuk itu, pas sekali kalau mereka kita ajak untuk semakin familiar dengan kekhasan kopi Jabar. Mudah-mudahan dengan coffee tasting sebagai salah satu agenda menjadi gerbang bagi anak muda Bandung semakin mencintai kopi Java Preanger (Puntang)," pungkas Ade.   * pjo