728 x 90




Bangganya Menjadi Paskibraka di Peparnas XV 2016

  • Rubrik: Sosok
  • 25 Oktober 2016 | 09:12 WIB
  • 00366
img
Dua anggota Paskibraka asal Jawa Barat yang menjadi pengiring kontingen dalam penutupan Peparnas, Senin (24/10) sore. * MCP

SEBUAH kehormatan dan kebanggaan menjadi seorang pengiring kontingen pada defile suatu perhelatan akbar sepakbola. Tidak banyak orang terpilih melakukan hal tersebut. 

Seperti dirasakan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) Provinsi Jawa Barat. Mereka merasa bangga terpilih menjadi pengiring defile pada pembukaan serta penutupan Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016.

Kesan beragam pun dirasakan mereka, khususnya saat menjadi pengiring kontingen Pembukaan Peparnas beberapa waktu lalu. Tidak ada perbedaan besar membawa papan cabang olahraga saat PON maupun Peparnas, tetapi pesta Paralimpik lebih membuat mereka bersemangat.

Dengan keterbatasan, para atlet Peparnas mampu melihat ke depan dengan tegak, tidak ada rasa minder apalagi lemah. Tatapan penuh optimis dan penuh semangat. Itu pun yang dirasakan para Paskibra Jabar, yang merasa terhormat bisa mengiringi orang-orang hebat dengan keterbatasan yang dimiliki.

"Sejak pembukaan dan penutupan PON kemarin dan pembukaan Peparnas, saya ikut. Kebanggaan buat saya, bisa bersama orang-orang hebat, khususnya saat mengiringi atlet Peparnas. Mereka berjuang dengan keterbatasan yang dimilikinya," kata Muhammad Ilham Nasution, petugas pengiring kontingen cabang sepakbola di Stadion Siliwangi, Minggu (23/10) sore. 

Anggota Paskibraka Jabar lainnya asal Indramayu, Widikdo Widoyono, menambahkan, selama ikut kegiatan PON dan Peparnas, banyak hal yang didapatkannya. Khususnya tentang arti kekuatan, mentalitas, dan semangat juang. 

Apa yang didapatkannya itu tidak berbeda dengan yang diberikan senior atau pembina Paskibra pada menu latihan atau pendidikan Paskibra. Tetapi, pemahaman dan rasa lebih didapatkan ketika melihat langsung, terutama perjuangan disabilitas meraih impian dengan keterbatasan.

"Saya menaruh hormat untuk atlet-atlet Peparnas. Daya juang, semangat, motivasi, kepercayaan diri, mental mereka punya. Dengan keikhlasan menerima yang dimiliki, mereka tetap mampu berprestasi dan memberikan kebanggaan. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi orang lain," ucapnya yang bertugas mengiringi kontingen bulutangkis. * pjo