728 x 90




I Gede Suwantaka, Kisah Haru Kakak Peraih Perunggu Paralimpik

  • Rubrik: Sosok
  • 19 Oktober 2016 | 19:29 WIB
  • 00236
img
I Gede Suwantaka bersama sang adik, Ni Nengah Widiasih. * Media Center

ENTAH rasa haru macam apa yang melingkupi I Gede Suwantaka saat sang adik mampu mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia dalam ajang Paralimpik yang dihelat di Rio de Janiero, Brasil. Satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah melupakan perjuangannya sejak kecil bersama sang adik. I Gede adalah  atlet angkat berat yang mewakili kontingen Bali. Sedangkan sang adik, merupakan pemecah rekor nasional kelas 41 kilogram, dan peraih medali perunggu di Paralimpik, yang tidak lain adalah Ni Nengah Widiasih.

Baik I Gede maupun Ni Nengah sama-sama terjangkit polio saat kecil. Di kampungnya, di Nusa Dua, Bali, hanya keduanya yang kala itu terjangkit polio.

“Awalnya, kami merasa lemas dan demam. Karena kami hidup di kampung, tidak ada dokter di sana. Kami pun berobat ke mantri. Di sana, salah satu kaki kami disuntik,” cerita I Gede.

I Gede disuntik kaki kanannya, sedangkan sang adik kaki kirinya. Tidak berselang lama, bukannya sembuh dari penyakit, keduanya justru merasakan ada yang berubah pada salah satu kaki mereka yang perlahan mulai mengecil. Sejak saat itulah, keduanya kesulitan berjalan dengan menggunakan kedua kaki. I Gede, yang masih kelas 3 sekolah dasar, merasa kesulitan dengan musibah yang menimpanya. Biasanya, ia berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya tiga kilometer.

“Kaki kanan saya mengecil, sehingga saat berdiri menjadi tidak rata. Saya pun menggunakan kayu sebagai penopang agar bisa jalan,” kata anak pertama dari empat bersaudara ini.

Kayu yang dimaksud oleh I Gede adalah kayu apa pun yang bisa ia temui di jalanan, asalkan bisa menopang tubuhnya. Masalahnya, karena jalanan menuju sekolah berpasir. Hal ini membuat langkahnya kian berat. Terlebih, ia tidak menggunakan sepatu sebagai alas kaki.

“Jujur, saya malu kalau pakai sepatu hanya satu. Pakai sandal pun sama, karena kaki kanan saya yang terangkat. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menggunakan alas kaki,” jelas I Gede. Namun, I Gede tidak berhenti bersyukur karena selalu ada orang yang menolongnya. Seperti saat ia pulang dari sekolah, misalnya, ia kerap diajak pulang bersama oleh supir truk pasir.

Turun Mental

Proses penyesuaian I Gede setelah musibah yang menimpanya terbilang sangat lama. Pada satu waktu, ia kerap merasa mendapatkan ketidakadilan karena kondisinya tersebut.

“Saya melihat teman-teman yang lain di sekolah bisa bermain, berlarian ke sana kemari. Di situ, saya sempat merasakan bahwa musibah yang menimpa saya merupakan ketidakadilan,” kata I Gede.

Ia pun bercerita bahwa dulu, saking parahnya, sang adik tidak bisa berjalan, melainkan merangkak. Bahkan, Ni Nengah tidak bersekolah karena kondisi tersebut.

Harapannya lantas muncul saat akan menyusul Ni Nengah ke Yogyakarta untuk dioperasi dan dipasangkan kaki palsu. Sebelumnya, Ni Nengah sudah terlebih dahulu pergi ke Yogyakarta, sedangkan I Gede baru berangkat setelah lulus SD. Di Yogyakarta, cara pandang I Gede pun berubah 180 derajat. Ia tidak lagi malu atau minder dengan kondisinya tersebut.

“Di sana, banyak yang lebih parah daripada saya, jauh lebih parah,” ucap I Gede.

Setelah selama sembilan bulan tinggal di Yogyakarta, I Gede kembali ke Bali dengan semangat yang tinggi. Ia telah percaya diri dengan apa yang telah menimpanya.

“Saya langsung melanjutkan sekolah, meskipun sempat cuti selama setahun,” kata I Gede.

Memilih Pekerjaan atau Atlet?

I Gede pernah ikut dalam Peparnas 2008 yang digelar di Kalimantan Timur. Namun, pada Peparnas 2012 di Riau, dirinya absen.

“Waktu itu, saya dihadapkan pada dua hal; pekerjaan atau menjadi atlet,” terang I Gede.

Kedua hal ini terbilang sulit bagi I Gede. Alasan utamanya adalah ia kadung mencintai profesinya sebagai seorang atlet. Apalagi, ia telah mengenal dunia angkat berat sejak SMP dan mengikuti sejumlah kejuaraan.

“Tetapi, pada akhirnya saya lebih memilih pekerjaan karena waktu itu baru diterima. Tidak enak kalau langsung cuti,” ucap I Gede.

I Gede menjabarkan bahwa sulit bagi difabel untuk bisa diterima di pekerjaan, terlebih untuk kerja di perhotelan. Sementara itu, I Gede baru saja diterima di sebuah hotel.

“Susah untuk difabel diterima di perhotelan, apalagi di Bali,” kata I Gede.

Meskipun berat, ia pun memutuskan untuk memilih pekerjaan dan merelakan untuk tidak mengikuti Peparnas 2012.

“Kalau saya memang berprestasi dan rezekinya di situ, suatu saat saya bisa mengikuti Peparnas lagi,” ucap atlet kelahiran 1990 tersebut.

Nyatanya, harapan itu pun benar-benar terjadi, karena I Gede masuk ke dalam kontingen Bali untuk Peparnas XV Jawa Barat.

Mendukung Sang Adik

I Gede telah menekuni angkat berat sejak SMP. Ia mengatakan bahwa kebiasannya ini menginspirasi sang adik untuk juga menggeluti angkat berat.

“Awalnya dia terinspirasi dari saya. Karena ‘kan saya yang duluan, terus dia ikut-ikutan olahraga. Lalu, saat itu ada kejuaraan nasional dan Bali jadi tuan rumah, nah dia ikut karena sudah pernah latihan bareng-bareng. Akhirnya dia dapat juara pertama. Langsung dia ditarik oleh pelatihnya untuk fokus berlatih,” cerita I Gede.

Di Peparnas XV, Ni Nengah sempat gagal mengangkat beban 96 kilogram. I Gede pun memasang wajah tenang.

“96 masih enteng, biasanya 100 juga terangkat kok,” ucapnya, “Lagi kurang fokus saja dianya,” ucap I Gede.

Lantas, pada percobaan yang ke dua kalinya, beban 96 kilogram pun berhasil diangkat. Semua penonton bertepuk tangan, termasuk I Gede, yang menjadi saksi pecahnya rekor nasional. “Waktu di Brasil, dia dapat perunggu dengan mengangkat 95 kilogram. Dia hampir berhasil di angkatan 100 kilogram, tapi karena goyang jadi di-dis,” kata pria yang turun di kelas 59 kilogram tersebut.

Pada akhirnya, Ni Nengah berhasil meraih medali emas. Ia menjadi rebutan untuk difoto bersama. Di luar arena, I Gede pun berfoto bersama sang adik. Barangkali, ia menjadi orang dengan senyum yang paling sulit dimengerti; antara senang, terharu, dan bahagia. Terlebih mengingat kembali perjuangan keduanya dari mulai terserang polio bersama-sama, sampai kini punya cita-cita yang sama ingin mengharumkan nama Indonesia di dunia. * MCP/pjo