728 x 90




SMAN 9 Kota Bandung Miliki Enam RKB

  • Rubrik: Pendidikan
  • 03 Januari 2018 | 19:27 WIB
  • 00329
img
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, meresmikan ruang kelas baru dan rehabilitasi ruang kelas SMAN 9 Kota Bandung di kampus SMA Negeri 9 Kota Bandung, Jalan Suparmin No. 1A, Kota Bandung, Rabu (3/1).* humas jabar

BANDUNG, (PJO.com) – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), berkesempatan untuk meresmikan ruang kelas baru (RKB) dan rehabilitasi ruang kelas SMAN 9 Kota Bandung di kampus SMA Negeri 9 Kota Bandung, Jalan Suparmin No. 1A, Kota Bandung, Rabu (3/1). Ada enam RKB dan lima ruang kelas diperbaiki. Pembangunan dua di antara RKB tersebut biayanya berasal dari dana CSR BJB.

Pembangunan RKB dan rehabilitasi kelas ini merupakan bantuan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBD Pemprov Jawa Barat sebesar Rp862.783.200,00, sedangkan rehabilitasi kelas berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN Rp440.315.550,00, serta Dana CSR PT. Bank BJB sebesar Rp365.603.000,00.

Dalam sambutannya, Aher mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya memperbaiki kualitas pendidikan, termasuk kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik. Salah satu persoalan yang terus diselesaikan adalah pembangunan ruang kelas.

“Jawa Barat termasuk provinsi dengan lompatan pembangunan ruang kelas paling besar di Indonesia. Karena tidak ada sepanjang sepuluh tahun dibangun – dulu waktu di awal tahun (masa pemerintaha Aher periode pertama), pembangunan SD dan SMP terbangun kurang lebih 15 ribu ruang kelas. Itu pada tahun 2008-2010 dan 2011 sampai sekarang catatannya sudah terbangun juga, Alhamdulillah, sebanyak 30 ribu ruang kelas,” kata Aher.

Hal ini berdampak pada kenaikan tingkat Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK di Jawa Barat. Pada 2008 APK Jawa Barat ada di peringkat 32 dari 33 provinsi (saat itu belum ada Provinsi Kalimantan Utara). Namun, pada 2016 peringkat Jawa Barat melonjak cukup signifikan di posisi 11 dari 34 provinsi atau berada di angka 76,62 %.

Pembangunan RKB dan rehabilitasi ruang kelas merupakan salah satu program prioritas pembangunan pendidikan di Jabar sebagai bagian dari peningkatan aksesbilitas dan daya tampung pendidikan, termasuk yang dilaksanakan di SMA Negeri 9 Kota Bandung yang menggunakan DAK atau Dana Alokasi Khusus.

Realisasi anggaran DAK 2017 sebesar lebih dari Rp68 M dengan 335 ruang dan pada 2018 ini, anggaran yang direncanakan sebesar lebih dari Rp143 M dengan 677 ruang. Melalui upaya tersebut, diharapkan mutu pendidikan di Jawa Barat dapat terus berkembang, walaupun berdasarkan data dari Dinas Pendidikan pada 2016, sektor pendidikan di Jawa Barat terlihat terus mengalami peningkatan. Hal tersebut ditunjukkan oleh: Meningkatnya Indeks Pendidikan dari 60,45 poin pada 2015 menjadi 61,39 poin pada 2016; Meningkatnya Angka Melek Huruf dari 98,29 poin pada 2015 menjadi 98,78 poin pada 2016; RLS 2016 sebesar 7,95 tahun, dan APK SMA/SMK/MA/Sederajat pada 2016 mencapai 76,62%.

Ke depan, khususnya pada 2018, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembangunan unit sekolah baru, yaitu SMA sebanyak 3 unit dengan total Rp 15 M dan SMK sebanyak 2 unit sebesar Rp10 M. Sementara itu, untuk rencana pengadaan lahan pada 2018 ini akan dilakukan untuk SMA dan SMK dengan total masing-masing sebesar Rp15 M. Hal ini akan menjadi prioritas, mengingat berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Barat, 69 sekolah yang terdiri atas 45 SMA dan 24 SMK di 21 kabupaten/kota di Jabar belum memiliki lahan mandiri. Dengan demikian, diharapkan target dalam menyelesaikan permasalahan lahan akan tuntas pada 2019.

Aher mengimbau kepada semua pihak baik dunia usaha atau masyarakat umum agar membantu dunia pendidikan di samping pengembangan bidang lain.

“Yang jelas pendidikan ini gerakan bersama, tentu selama ini tanggung jawab pemerintah paling besar. Tentu ketika ada pihak-pihak lain yang ingin membantu dipersilahkan, terbuka,” imbau Aher.

Kepala SMA Negeri 9 Kota Bandung, Agustia Mulyadi, mengatakan pada 2016 gedung sekolah SMA Negeri 9 Kota Bandung rusak diterjang banjir, sehingga mengakibat jebolnya tembok pembatas sekolah. Tujuh ruang kelas dan perpustakaan tergenang air. Sementara 35 unit komputer terendam dan ribuan buku hancur, serta dokumen-dokumen penting milik sekolah hilang.

Beberapa hari setelah peristiwa terebut, atas kerja sama semua pihak, tembok bisa dibangun kembali. Sejak saat itu, pihak sekolah pun berupaya terus agar musibah yang sama tidak terulang kembali.* dar