728 x 90




Orangtua Murid Gelisah, PPDB Online Menuai Masalah

  • Rubrik: Pendidikan
  • 11 Juli 2017 | 09:22 WIB
  • 01549
img

BANDUNG, (PJO.com) -- Setiap tahun, di Jawa Barat masalah penerimaan siswa baru (PSB) -- kini penerimaan peserta didik baru (PPDB) selalu membuat orangtua resah. Penyelenggara PPDB atau orang yang berkompeten dalam urusan ini pun seakan-akan kesulitan untuk mengatasi persoalan ini.
Keresahan dan kegelisahan orangtua murid ini diperparah lagi semenjak PPDB dikelola oleh provinsi, terutama PPDB sistem online. Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat di Jalan Dr. Rajiman Kota Bandung, setiap hari dipenuhi oleh para orangtua murid. Kedatangan para orangtua murid tersebut terkait dengan mekanisme dan peraturan Gubernur Jawa Barat tentang PPDB online. Sebagai puncaknya, Senin (10/7) para orangtua yang.berjumlah sekitar 300 orang mendatangi pejabat di lingkungan Disdik Jabar. Namun kedatangan mereka diterima oleh Dewan Pendidikan Jawa Barat.

Menurut Ketua Dewan Pendidikan Jabar, Bambang, kegelidahan dalam PPDB ini bukan saja dirasakan oleh orangtua murid.

"Kami juga merasakan itu," tutur Bambang di depan ratusan orangtua murid.

Rupanya keresahan orangtua murid ini, bukan terjadi di Kota Bandung saja. Bahkan di setiap kabupaten/kota di Jabar kejadiannya hampir sama.
Bukan hanya orangtua calon siswa tingkat SMA dan SMK Negeri yang mengeluhkan nama anaknya tiba-tiba hilang di website resmi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jabar 2017.  

Andri Abdul Azis, orangtua murid Adzkia asal SMPN 8  Bandung, kepada PJO.com mengatakan passinggrade putrinya 35. Ada penambahan jadi 36 koma. Daftar ke pilihan pertama di SMAN 5, sedangkan pilihan ke dua SMAN 24. Pada saat itu, urutan ke 44 dari  ratusan pendaftar. Namun menjelang pengumuman, nama anaknya sudah tidak ada. Sementara, siswa lain yang passinggrade-nya jauh di bawah, ada dalam daftar. Masalah ini membuat sebagian orangtua mendatangi Kantor Disdik Jabar.

Bahkan, Asep, salah seorang perwakilan dari orangtua murid, yang menyampaikan aspirasinya dalam pertemuan tersebut menuntut agar kasus ini diaudit investigasi.

"Jangan sampai dibiarkan. Kalau ini berlanjut terus-menerus, hancur dunia pendidikan di Indonesia," tegasnya.* dar