728 x 90




Catatan Pinggir untuk Padamaran

  • Rubrik: Inspirasi
  • 06 Juni 2017 | 11:16 WIB
  • 00812
img
Cakdar. * dok. pribadi

Oleh Cakdar

SALAH satu dari sembilan program nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah mendongkrak hasil kelautan (maritim). Hal tersebut guna pemberdayaan masyarakat nelayan. Tetapi tidak kalah penting dengan program Bupati OKI, Iskandar SE., yaitu membangun dari desa. Dua program terobosan mulia, yang digagas oleh presiden dan bupati ini, intinya untuk pemberdayaan masyarakat.

Namun, dari dua program tersebut sebagai top leader-nya; pertama, menteri bawaan langsung presiden; ke dua, camat sebagai kepanjangan tangan bupati. Kalau aplikasi program pusat dilaksanakan oleh kementerian, barang kali tidak terlalu penting untuk membahasnya. Karena yang berkompeten di bidang itu sudah cukup banyak. Hal yang menarik bagi saya adalah barang kali bagaimana seorang camat mengaplikasikan program pemberdàyaan untuk masyarakatnya.

Kecamatan Pedamaran misalnya, saya meyakini dengan anggaran kecamatan lebih kurang Rp1 miliar, dapat mengatasi kebutuhan operasional para staf dan karyawan melalui nomen klatur belanja publik dan pegawai. Namun, sebagai masyarakat awam, banyak juga yang belum memahami, ke mana aliran dana yang dipergunakan, kecuali para staf dan kasi di kecamatan itu sendiri.

Secara teknis, camat dibantu oleh beberapa kasi. Ada kasi untuk koordinasi pemberdayaan masyarakat,
ketenteraman dan ketertiban umum, penegakan peraturan perundangan, pemeliharaan prasarana dan fasilitas umum, kegiatan pemerintahan, membina pemerintahan desa/kelurahan, serta pelayanan masyarakat yang belum dilaksanakan desa/kelurahan. Ditambah seorang sekwilcam yang notabene sebagai top manajemen bidang administrasi. Kalau tupoksi ini betul betul dijalankan, bupati tentu merasa bangga.
Namun, tidak sedikit contoh di beberapa kecamatan di Pulau Jawa, sikap otoriter kepemimpinan seorang camat sering kali ditemukan. Diperparah lagi oleh egosentris seorang sekwilcam yang selalu membuat laporan asal camat senang, dengan mengabaikan hak dan kewajiban tugas pokok dari kasi-kasi tersebut. Kalaborasi yang tidak sehat inilah mengakibatkan ada skat-skat yang ujung-ujungnya membuat ketidaknyamanan. Pada akhirnya, semua sektor bidang pembangunan tidak berjalan.

Semoga di era tranparansi ini, di Kecamatan Pedamaran tidak terjadi hal seperti ini. Sebagai putra daerah yang lahir di tanah leluhur Pedamaran, tidak sudi kalau Pedamaran diperjualbelikan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Saya harap untuk para pemuda, peliharalah bumi urang diri yang  tercinta ini. Jangan mengekor, karena kalian (pemuda) adalah pelopor. Apalagi pemuda yang terlembaga seperti karang taruna. Ada hak fasilitas Anda di sana. Buka mata, pasang telinga. Nanti kalian tahu, sebesar apa fungsi karang taruna. Anda adalah aset yang dipersiapkan untuk kelanjutan pembangunan masa depan. *